Oleh: hijaumuda | Januari 12, 2008

Legenda Pandan Suri

Dahulu kala di suatu kampung di kaki gunung Merapi, hiduplah seorang anak perempuan bernama Laila dan ibunya yang telah menjanda sejak Laila berumur enam tahun. Ibunya sehari-hari berjualan beras dari satu kampung ke kampung lain melewati bukit yang ada di belakang rumah. Kemanapun ibunya berjualan Laila selalu mengikuti. Karena di atas dunia ini hanya Laila yang dimiliki ibunya. Apapun yang diminta Laila selalu dipenuhi oleh ibunya. Bila teman sepermainannya mempunyai mainan yang baru, Laila akan datang sambil merengek-rengek meminta ibunya membelikan mainan yang serupa dengan yang dipunyai temannya itu. Laila sangat manja, dan jarang sekali mau menolong ibunya.
“Ibu, ibu dimana?”, panggilnya, berlari menuju rumah.

“Ibu, Ani baru saja dibelikan boneka yang bagus oleh ayahnya. Aku juga ingin boneka seperti itu, bu”, rengeknya.
“Laila, ibu belum punya uang cukup untuk membeli boneka itu sekarang. Beras kita kurang laku minggu kemaren. Nanti kalau sudah terjual, ibu belikan, ya”, bujuk ibunya.
“Tapi, mainanku sudah tak bagus lagi. Semuanya usang dan kumuh. Aku malu kepada teman-teman. Kalau tak ibu belikan, aku tak mau lagi bermain, aku tak mau lagi keluar rumah”, isaknya.
Akhirnya, karena tak ingin melihat anaknya bersedih hati, ibunya pun meminjam uang tetangga untuk membeli boneka baru buat Laila., dan ibunya berjanji akan membayar setelah berasnya terjual.
Tahun pun berganti, tak terasa Laila beranjak dewasa, dan ibunya yang kian tua masih berjualan beras ke kampung-kampung. Perangai Laila semakin buruk. Ia tidak hanya melawan ibu, bahkan ia sering mencaci orang lain yang serba kekurangan di matanya. Dalam bergaul, tak jarang Laila menyakiti hati teman-temannya dengan kata-kata yang kasar.
Pernah suatu kali ketika Laila mandi dengan teman-temannya di sungai. Semua sibuk memuji kalung baru yang dimiliki salah seorang temannya. “Wah, Asma kalungmu ini bagus sekali, kau beli dimana?”, tanya temannya.
“Ah, ini pemberian calon suamiku. Dia baru pulang dari pulau Jawa dan menghadiahkan ini padaku”, jawab Asma malu-malu.
“Halah… paling cuma barang tiruan. Kalian kan tahu sekarang banyak sekali orang menjual barang-barang palsu. Dan kalian lihat, kalung ini pasti barang imitasi. Harganya pun pasti murah, iya kan?” ucap Laila dengan suara keras meyakinkan teman-temannya yang lain.
Semua mengangguk, tak ada yang berani berkata. Karena kalau mereka menjawab, maka Laila akan menghinanya pula. Laila sangat iri melihat kalung milik Asma. Andai saja ia orang kaya, apapun yang ingin dimilikinya pasti segera terpenuhi.
Sesampainya di rumah Laila lang-sung menemui ibunya. “Ibu, si Asma punya kalung baru. Betapa sombongnya. Dia pikir aku tak bisa memilikinya? Ibu, pokoknya aku harus punya kalung seperti itu. Belikan aku ya. Kalau tidak, aku tak mau lagi menjadi anakmu.”
Betapa sedih hati ibunya mendengar ucapan Laila. Tapi ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Ia sangat menyayangi Laila. Dan lagi-lagi ia meminjam uang tetangga untuk memenuhi permintaan Laila.
Setiap malam ibunya selalu berdo’a dan meminta kepada Tuhan agar perangai Laila berubah. Agar Laila menjadi anak sholehah, anak yang berbakti kepada orang tua. Ia selalu memaafkan prilaku dan perkataan kasar Laila dengan harapan Laila bisa berubah kelak.
Suatu hari ibunya diundang oleh orang kampung sebelah menghadiri pesta perkawinan anaknya. Tak lupa ibunya mengajak Laila ke pesta itu. Laila langsung mengiyakan, dan ia berfikir pasti orang-orang akan kagum melihat kecantikan dan perhiasan yang dipakainya nanti. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Keesokan harinya, Laila berdandan rapi, memakai semua perhiasan di tangan dan di lehernya. Baju yang dipakainya pun bersulamkan emas. Memang Ia kelihatan cantik hari itu, berbeda sekali dengan ibunya yang memakai pakaian lusuh dan usang.
Di jalan yang dilewatinya menjelang kampung sebelah, orang-orang memandang kagum kepada Laila. Tak ada yang menyangka bahwa Ia adalah si Laila anak penjual beras. Ia berjalan mendahului ibunya, karena Ia malu kalau orang lain tahu bahwa yang berjalan bersamanya adalah ibunya. Setibanya di tempat pesta itu, orang-orang melayani Laila dengan baik. Mereka memuji-muji kecantikan dan perhiasan yang dipakai Laila. Seorang ibu mendekatinya, “Hai, anak gadis. Pakaianmu bagus sekali. Pasti kau anak seorang saudagar yang kaya. Orang yang datang bersamamu tadi siapa?”, tanya ibu itu.
“Saya memang anak saudagar kaya. Nah, yang datang bersama saya tadi adalah pelayan saya”, jawabnya bohong. Ibunya yang tidak sengaja mendengar perkataan Laila menangis di dalam hati. Ia tidak menyangka bahwa Laila akan berkata seperti itu.
Di perjalanan pulang Laila kembali melewati bukit di belakang rumahnya dan mendahului ibunya. “Ibu berjalan di belakangku saja. Aku tak mau orang tahu bahwa ibu adalah ibuku. Aku malu punya orang tua yang miskin seperti ibu”, ucapnya.
Laila kemudian berjalan tergesa-gesa. Ibunya tak henti-henti berdo’a. “Ya Tuhan, apa kesalahan hamba, hingga hamba diperlakukan seperti ini oleh anak hamba sendiri. Ya Tuhan, berilah peringatan kepada anak hamba agar Ia sadar atas kesalahannya. Amiin!!
Karena berjalan sangat tergesa-gesa, Laila tidak sadar bahwa ia telah menginjak tanah rawa yang dalam, sehingga tubuhnya ikut tersedot ke dalam rawa itu. Berkali- kali Ia memanggil ibunya, namun sangat disayangkan ibunya tak bisa mendengar karena jauh tertinggal di belakang. Ia jadi teringat akan dosa-dosanya, Ia menyesali semua prilaku dan perkataan yang tidak baik yang diucapkannya kepada ibunya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tanah rawa semakin menyedot tubuhnya lebih dalam. “Ibu, ma’afkan aku”, tangisnya pun turut hilang bersama tubuhnya.
Sejak saat itu, di atas bukit yang bertanah rawa, dimana tubuh Laila terkubur, tumbuh serumpun pandan. Dan orang-orang menamainya pandan suri.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori