Cerita Nurfitria
Dahulu kala di suatu negeri di kaki gunung Merapi hiduplah sepasang kakek dan nenek. Sejak menikah mereka belum memiliki anak. Dan kehidupan mereka pun sangat memprihatinkan. Sehari-hari si kakek mengambil bambu yang tumbuh di lereng gunung. Membuat berbagai macam benda dari bambu itu, lalu menjualnya kepada orang-orang di sekitar mereka tinggal. Dan sesekali ia menjual ke pasar yang ada di kampung kaki gunung Merapi.
Pada suatu hari si kakek melihat cahaya aneh yang keluar dari dalam bambu itu. Si kakek menemukan seorang anak perempuan cantik di dalamnya. Awalnya kakek terkejut dan takut. Di dalam pikirannya muncul hal-hal aneh. Ia mengira kalau anak perempuan itu bisa saja anak hantu. Akan tetapi, karena perasaan iba kakek membawa pulang anak perempuan itu. Kakek dan nenek yang telah lama hidup dan belum mempunyai anak itu merasa sangat gembira. Mereka menamai anak perempuan itu dengan “Putri Bulan”, karena waktu si kakek menemukannya, tubuh anak perempuan itu bersinar keemasan seperi sinar rembulan. Kakek dan nenek memelihara Putri Bulan dengan sebaik-baiknya. Segala kasih sayang tercurah untuk Putri Bulan. Tahun berganti, Putri Bulan pun tumbuh besar dan semakin cantik. Ditambah lagi dengan tutur katanya yang sopan dan halus kepada semua orang, membuat ia disenangi dimanapun ia berada.
Berita kecantikan Putri Bulan terdengar hingga seluruh pelosok negeri. Pemuda-pemuda kaya dari berbagai daerah datang berbondong-bondong mengajukan lamaran untuk menikahi Putri Bulan pada kakek dan nenek.
‘Kakek dan nenek, mohon izinkan saya untuk menikahi Putri Bulan,” pinta para pemuda yang datang melamar.
“Anak muda sekalian, bukannya kami tidak mengizinkan. Namun ada baiknya jika kami meminta persetujuan Putri Bulan dahulu. Mohonlah bersabar agak beberapa waktu hingga Putri memberi jawabannya.” Kakek menjawab.
Para pemuda itu pamit. Mereka berharap salah seorang di antara mereka bisa menjadi suami Putri Bulan. Kakek dan nenek kemudian berunding.
“Nek, apa sebaiknya berita lamaran ini kita sampaikan kepada Putri Bulan? Saya takut kalau Putri mengiyakan permintaan itu, tentu hidup kita akan kembali sunyi seperti dulu.”
“Kakek tidak usah bersedih seperti itu. Ini juga demi kebahagiaan Putri kelak. Kita harus mengikhlaskan kalau Putri menerima lamaran dari pemuda-pemuda yang telah datang melamar.”
Kakek dan nenek tidak bisa berbuat apa-apa selain menyampaikan berita lamaran itu kepada Putri Bulan. Mereka pun menemui Putri Bulan.
“Saya tidak ingin menikah, Kek, Nek. Saya masih ingin tinggal lebih lama dengan kakek dan nenek. Tolong sampaikan kepada pemuda-pemuda itu, ya,” pinta Putri Bulan.
Lalu kakek memberitahukan jawaban Putri Bulan pada pemuda tersebut. Namun, lima orang di antara pemuda itu, Syamsul, Buyuang, Sutan, Aminudin, dan Malin terlihat tidak menyerah. Hingga akhirnya Putri Bulan mengadakan sayembara.
“Baiklah, saya akan menikah dengan orang yang bisa membawa benda-benda yang saya minta, “ kata Putri Bulan. Kelima pemuda tadi diminta pergi ke negeri yang jauh. Benda yang diinginkan Putri Bulan sungguh aneh dan langka. Untuk mendapatkannya pun teramat sulit.
Pemuda pertama yang bernama Syamsul diminta pergi ke India untuk mencari mangkuk batu kaca. Buyuang pergi ke gunung yang ada di bagian laut timur, ia harus mengambil ranting kayu yang terbuat dari batu permata. Sutan pergi ke Cina untuk mencari pakaian yang tidak bisa terbakar yang terbuat dari kulit tikus. Aminudin mencari bola leher naga dan Malin harus datang membawa burung layang-layang yang memiliki sarang emas.
Akan tetapi, tiga tahun berikutnya tak seorang pemuda pun datang membawa benda-benda yang diinginkan Putri Bulan. Barangkali karena mereka melakukan pekerjaan yang sia-sia, lalu pemuda-pemuda itu sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Kecantikan Putri Bulan tak hanya memikat para pemuda di negeri itu Raja Mahasakti pun jatuh hati padanya. Sang Raja menginginkan Putri Bulan sebagai permaisurinya. Berkali-kali Raja mengungkapkan perasaannya melalui surat, tapi Putri Bulan tidak bisa mengatakan “ya”.
Tiga tahun pun berlalu, sekarang memasuki musim panas. Setiap malam Putri Bulan memandang bulan dengan air mata berlinang.
“Ada apa gerangan Putri Bulan…Kenapa engkau bersedih seperti itu?” tanya kakek dan nenek.
“Kek, Nek, sebenarnya saya bukanlah penghuni bumi ini. Saya berasal dari bulan. Pada Purnama berikutnya saya harus pulang ke bulan, karena itulah saya sangat sedih. Orang tua saya di bulan meminta saya pulang. ”
Kakek dan nenek terkejut mendengar cerita itu. Lalu mereka mohon bantuan kepada raja untuk menahan Putri Bulan.
“Yang Mulia, Putri Bulan akan kembali ke bulan. Tolong jangan izinkan ia pergi,” pinta mereka. Di malam bulan purnama itu, Raja memerintahkan banyak prajurit menjaga rumah si kakek. Namun, di tengah malam, sekeliling rumah penuh dengan cahaya dan para prajurit tak bisa melihat apapun. Lalu dari bulan turun sebuah kereta menjemput sang putri. Putri Bulan naik ke atas kereta itu dan terbang ke langit.
Setelah Putri Bulan pergi, kakek dan nenek ditinggali hadiah berupa obat ajaib. Namun kakek dan nenek sangat sedih dan tak sekali pun obat itu mereka minum hinga akhirnya mereka meninggal dunia. Raja pun turut kecewa dan berpikir jika tak ada Putri Bulan di bumi ini, tidak ada gunanya melanjutkan hidup. Di atas gunung ia memerintahkan membakar obat-obatan yang tersisa hingga menjadi abu. Raja kemudian memilih meninggalkan kerajaannya, dan hidup menyendiri di hutan.
*Cerita ini dikutip dan disadur dari cerita rakyat Jepang yang terdapat dalam buku ”Minna No Nihongo Shou Kyuu”.
Dear Nurfitria
Saya senang mendengar cerita seperti yang ada di layar ini, kalau boleh seringlah membagikannya kepada orang yang kurang informasi untuk cerita-cerita untuk anak, semoga Tuhan memberkatimu.
Nurhayati Panjaitan
Oleh: nurhayati on Januari 16, 2008
at 2:02 am