Hijaumuda rutin melakukan diskusi seputar karya-karya anggotanya setiap minggu. Hari Minggu tanggal 13 Januari 2008 lalu, karya yang didiskusikan adalah cerpen Kawinkan Ratna karya Reno Wulan Sari. Berikut adalah hasil dari pembacaan terhadap cerpen tersebut.
Secara umum peserta diskusi yang berjumlah lima orang: Maya Lestari Gf, Nurfitria, Ria Febrina, Dewi Santi dan Elsya Crownia berpendapat cerita itu bagus. Wulan memiliki gaya penceritaan yang baik. Kalimatnya mengalir lancar, dan jeli mengangkat detil kehidupan sehari-hari dalam cerpennya. Meski demikian ada beberapa koreksi yang disampaikan.
Pertama, pembaca (dalam hal ini peserta diskusi) menangkap ada dua tema dalam cerita ini. Pertama, kisah si nenek nyinyir yang selalu ikut campur urusan orang lain, dan yang kedua kisah si Ratna. Bila menilik dari judul cerpen “Kawinkan Ratna”, hal ini jadi membingungkan. Karena dua tokoh diceritakan nyaris dalam porsi sama. Saran peserta diskusi, sebaiknya Wulan fokus menceritakan si Ratna saja, tanpa terlalu memberi porsi besar pada si nenek
Kedua, Elsya Crownia menganggap karakter tokoh kurang kuat. Jadi ia menyarankan, Wulan mungkin bisa mempertajam karakter tokoh-tokoh ceritanya dengan penggambaran sikap atau tingkah laku.
Ketiga, ada hal yang kurang logis di cerpen ini, yakni, pembayaran Posyandu. Karena setau beberapa peserta diskusi, Posyandu itu gratis.
Di akhir diskusi, Wulan diberi kesempatan menyampaikan pendapat atau pembelaan terhadap cerpennya ini. Menurut Wulan, ia menggunakan gaya penceritaan aku dalam cerpennya ini. Jadi, si aku melihat ada dua sosok yang sangat menarik perhatian di lingkungannya. Yang pertama si nenek dan yang kedua si Ratna. Jadi si aku menceritakan kedua tokoh ini secara bersamaan. Di sini terlihat bagaimana pandangan tokoh aku terhadap si nenek yang suka mencampuri urusan orang lain. Juga pandangan tokoh aku terhadap Ratna yang dikawinkan dalam usia begitu muda.
Terakhir, hijaumuda meminta pendapat Yusrizal KW selaku pembina. Sebagai informasi, beliau juga redaktur budaya di harian pagi Padang Ekspres. Cerpen “Kawinkan Ratna” beliau muat di halaman Sastra dan Budaya Padang Ekspres edisi Minggu, 13 Januari 2008.
Berikut komentar beliau.
Ada hal-hal menarik dalam cerpen ini yang membuatnya lolos seleksi. Yakni, kelugasan si pengarang dalam menyampaikan sesuatu (seperti terlihat dalam kalimat “baru datang bulan empat kali!”), kemudian kedetilan pengarang dalam menceritakan kejadian sehari-hari yang lumrah (seperti kisah gadis remaja yang suka hilir mudik tak keruan, atau kenyinyiran orang tua, dll). Kemampuan pengarang dalam mengolah kata juga menarik perhatian, menandakan ia seorang yang berbakat.
Hal lain yang menarik adalah pembukaan dan penutupan cerpen. Cerpen ini dibuka dengan adegan seorang nenek yang duduk di teras, dan diakhiri dengan adegan si nenek masuk ke rumah. Ini artinya, si pengarang cermat memerhatikan tempat dimana ia memulai cerpennya, dan dengan manis juga menutupnya di tempat yang sama.
Sejujurnya cerpen ini memiliki kekurangan. Bila pengarang tak hati-hati, fokus cerpen ini bisa bercabang. Fokus pertama ke si nenek, dan yang kedua ke si Ratna. Namun, secara umum cerpen ini cukup berhasil membangun emosi. Dan itulah kelebihannya.