Reno Wulan Sari
Kupikir ia akan tidur, menikmati hangatnya selimut hingga pagi. Tapi ia tetap di sana. Menatap dengan tajam di balik pagar. Seperti biasa, ia mengenakan daster merah yang membalut keriput tuanya. Tubuh yang tak lagi berbentuk. Namun suaranya tetap keras, tidak mengikuti usianya yang menyusut.
Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Atau mungkin ia tak berpikir apa-apa, hanya menikmati udara dingin yang barangkali lembut menyapa kulitnya. Yang jelas ia terus menatap keramaian. Menangkap hiruk pikuk dalam sorotnya. Ia tetap duduk. Mungkin sedikit menggerakan kaki yang mulai kaku. Aku melihatnya jelas berada di balik pagar. Hanya seorang. Meski ada juga seorang anak sering membukakan pintu dan memintannya masuk, tapi ia hanya menggelengkan kepala dan tetap terpaku di kursi depan rumahnya. Kapan ia akan tidur. Bukankah ini sudah terlalu larut bagi seorang tua? Barangkali nanti, ketia ia mulai mengantuk.
***
Sekali kutatap juga Bu Marni. Ia tampak bahagia dengan keramaian ini. Aku jadi teringat Ibu di rumah. Ingin rasanya aku pulang lebih cepat, tapi tak enak, jika aku harus memberikan alasan bahwa Ibu saat ini seorang diri di rumah. Bu Marni pasti akan bilang, suruh saja ibumu ke sini, ngapain di rumah sendirian? Mungkin karena Ibu memang tidak suka suasana keramaian pesta perkawinan, meski banyak juga Ibu-ibu berkumpul berbagi kebahagiaan. Aku pikir, bukan lantaran Bapak yang meninggalkannya, kemudian ia merasa membenci sebuah acara perkawinan. Dimana menurut Ibu, perkawinan hanya akan merugikan perempuan.
Tentu dalam hal ini tidak. Karena Ratna sama sekali tidak rugi. Ia hanya akan kehilangan masa remajanya yang masih panjang. Ketika ia tak bisa lagi kuajak pergi ke pasar malam atau menungu nasi goreng di gang depan. Aku tak membaca kerugian dalam sorot mata Ratna. Meski Bapaknya hanya bisa tersenyum pasi. Tentu, tak ada Bapak yang menginginkan anak gadisnya yang masih limabelas tahun menikah begitu cepat. Di saat ia masih mengira anak itu adalah putri kecilnya yang masih berlari dengan teman sebaya. Tapi ternyata, Ratna sudah lebih dewasa dari umurnya. Untung saja badannya cukup besar. Kata Ucup yang sempat tertarik padanya, Ratna itu montok. Aku sempat heran dengan kata-kata Ucup.
“Montok dari mana, Cup?”
“Semuanya. Ratna itu anaknya aduhai…” Begitu jawab Ucup selanjutnya.
“Kau lihat saja, kenapa banyak laki-laki yang tertarik padanya. Apalagi si botak sebelah yang istrinya lagi hamil. Masih suka merayu Ratna. Ia mau sekali Ratna duduk di boncengan tiap kali ia berangkat kerja. Ya jelas, ia tahu jam berapa Ratna keluar rumah, makanya diatur sedemikian rupa, biar kesannya kebetulan. Sudah tiga kali Ratna dibonceng.” Cerita Ucup panjang lebar.
“Ratna mau?”
“Ya maulah, gratis!”
Kata-kata Ucup mengingatkanku akan kekecewaanya ketika Ratna selalu menolaknya setiap diajak jalan ke pantai. Pernah sekali kubantu Ucup dengan usulanku untuk mengajak Ratna nonton ke bioskop. Ternyata cukup manjur, mereka pergi hari sabtu sore dan pulangnya sudah malam. Sedikit sekali ada perempuan yang mau diajak ke pantai. Mereka bilang, itu namanya pacaran tanpa modal. Cukup dengan 2 minuman botol mereka bisa ngobrol sepuasnya bahkan duduk berlama-lama. Tidak ada yang melarang. Istilah itu kudapat dari Ratna sendiri.
“Tih, kau jangan mau diajak si Ikhsan jalan-jalan ke pantai. Apa yang akan kau dapat? Lagipula, Cuma menghabiskan waktu, Tih. Bilang sama dia, sekali-kali ajak makan. Di warung Pak Samin juga boleh. Di sana makanannya enak, lagipula kalian tidak perlu keluarkan ongkos.”
Aku hanya tersenyum ketika Ratna mengajariku banyak hal. Ia sama saja seperti Nek Syam yang tinggal di depan rumahku. Tiap hari, perempuan tua itu selalu menasehati orang. Bahkan, aku juga sering mendengarnya ribut dengan menantunya. Mereka ribut di balik pagar. Hampir tiap pagi.
Nek Syam juga sering menasehati Ratna. Lebih-lebih ketika Ratna selalu pulang malam. Jika mendengar ia berbicara, Ibu selalu memintaku untuk menutup jendela.
Memang, Nek Syam memiliki maksud baik ketika mengingatkan seseorang, tetapi jika setiap hari, hanya itu saja yang dikerjakannya tentu telah menganggu ketenangan orang. Aku sering mendengar tetangga sebelahku berkata, “Kapan si tua itu mati? Setiap hari selalu mengurus urusan orang.” Wajar tetanggaku berkata demikian. Nek Syam pernah memanggilnya suatu sore hanya untuk mengatakan, “Ingatkan istrimu, jangan pulang dengan laki-laki terlalu malam. Bisa hancur rumah tangga kalian.” Padahal Nek Syam tidak tahu bahwa laki-laki itu adalah sopir kantor yang selalu mengantar karyawan jika lembur. “Orang tua memang selalu begitu. Dia pikir hanya dia yang benar, karena telah lama hidup. Kita dianggap belum tahu apa-apa. Harus diingatkan terus. Awalnya hanya menasehati, lah kemudian bisa jadi perintah. Kenapa Pak Royan tak mau melarangnya keluar?”
“Nek Syam itu susah dilarang, Bu. Berapa kali ia harus ribut dengan menantunya hanya karena disuruh masuk ke dalam rumah.”
“Yang mereka pikir, lebih dulu hidup, maka lebih banyak tahu. Itu prinsip orang yang sudah tua. Jadi kita harus tetap diingatkan, tidak peduli bahwa waktu terus berjalan, sudah tentu zaman akan berbeda.”
***
Aku semakin tidak nyaman, tapi tak enak juga jika harus meninggalkan rumah Ratna. Bu Marni masih berada di sekitarku. Ia tampak berusaha berbicara dengan suara yang sangat keras, namun tetap kalah dengan suara orgen tunggal. Mungkin pada jeda lagu, atau pergantian penyanyi Bu Marni bisa melepas tangannya dari mulut yang sedari tadi dilakukannya. Mereka seperti berbisik, tetapi mengeluarkan suara yang keras. Apa enaknya mengobrol pada suasana seperti ini. Sekarang semakin banyak pemuda yang datang. Mereka datang bersama-sama dan menempati hampir semua tempat duduk. Kemudian terdengar hiruk pikuk di tiap meja yang diiringi dengan tawa keras mereka. Tetapi ada juga beberapa gadis yang menyukai suasana seperti ini. Setidaknya sedikit berharap bahwa ada yang memeperhatikan mereka, maka tersenyum manis adalah pilihan yang tepat. Seperti dulu, ketika Ratna masih lugu, ketika pertama kali ia mengenal cinta. Ratna sering tersenyum, sedikit gemulai dan manja. Ratna tak lagi bermain lompat karet denganku, ia sudah mulai duduk dengan punggung tegak seperti perempuan yang kemayu. Kata Ibu, Ratna itu cepat sekali dewasa. Dia sudah mulai mengenal laki-laki. Dan aku setuju dengan penilaian Ibu. Ratna memang temanku, tapi kami tidak jalan beriringan.
“Tih, besok pakai kebaya Ratna saja ya. Sudah Ibu siapkan. Mereka nikahnya jam 10. Ya, telat sedikit lah. Jam delapan ke sini ya. Kita sanggul rambut kamu.”
Bu Marni tampak riang. Hingga ia mampu memikirkan pakaian dan dandananku. Sebagai seorang Ibu, tentu hari seperti ini menjadi hari yang istimewa. Melepas anak gadis yang akan berumah tangga. Tapi Ibuku berpikir lain. Baginya, Jika keadaannya seperti ini, tidak seharusnya seorang Ibu bahagia.
“Orang tua Ratna itu pikirannya singkat sekali. orang tua yang bodoh. Mau saja mengawinkan anak yang masih kacil.”
“Itu namanya sudah jodoh, Bu”
“Sudah jodoh kau bilang? Dia baru datang bulan empat kali sudah dikawinkan orangtuanya. Umurnya masih kecil, masih banyak kesempatan untuk kawin lagi. Pikirannya belum matang, ribut sedikit langsung cerai, lantas kawin lagi, itu yang namanya jodoh?”
“Jodoh kan tidak pandang umur, Bu”
“Kalau jodoh tidak pandang umur, orangtua yang harus memandang. Sedang darah mensnya saja belum lancar. Bagaimana kalau hamil muda? Bisa keguguran itu. Lagian belum tentunya lakinya bisa diandalkan. Paling kalau dia sudah beranak satu, lakinya sudah pergi lagi, sedang air susunya saja masih menetes. Sudah tentu, Ratna harus kawin lagi. Anaknya pasti mau sekolah? Siapa juga yang akan bayar posyandu? Orangtua?”
“Aku dengar Lakinya kerja.”
“Kerja apa?”
“Di toko”
Ibu tertawa mendengar ucapanku.
“Banyak yang bilang begitu tentang calon menantunya. Paling Cuma dudu-duduk di sana. Yang penting bagi mereka sekarang, anaknya menikah. Sudah, habis perkara. Tentu suaminya lagi yang akan mengurus. Mereka lepas tanggung jawab karena anaknya tak mampu lagi dikendalikan. Tidak penting kerjanya apa, yang penting ada suami. Dari pada keluyuran tiap malam. Luntang lantung tidak karuan. Tidak sekolah, kerja juga tidak.”
“Mereka berpikir, dari pada terjadi apa-apa pada Ratna kemudiannya. Lebih baik dikawinkan saja, Bu. Dia juga sudah tahu dengan laki-laki. Jadi Ibunya takut kalau Ratna bertindak lebih jauh.”
“Kalau mau kasih orang, ya barang yang bagus. Si Ratna itu belum tentu bisa masak, bisa membersihkan rumah. Kerjanya cuma keluyuran. Cekikikan dengan laki-laki. Itu yang mau diberikan dengan orang?” Ibu menghela napas sejenak.
“Ajari dulu dia masak, mencuci, mengasuh anak, baru dilepas. Mengurus diri sendiri belum becus, bagaimana mengurus suami?” Ibu terus berkata, “Orang tua Ratna terlau mendengar kata-kata perempuan tua itu. Dia pikir perempuan sekarang sama dengan dia dulu. Ratna bukan anak rumahan yang akan betah mengurus suami. Ada cara lain. Tidak mesti dikawinkan, orang yang sudah tua selalu merasa benar dan merasa punya hak untuk menentukan segalanya.”
***
Sedang ia masih duduk di sana. Di balik pagar, menyaksikan keramaian di rumah Ratna. Ia merasa sikapnya selalu tepat. Karena orang tua Ratna mendengarkan segala nasehatnya. Tiap malam ia selalu menunggu Ratna. Atau melihatnya dijemput oleh seorang laki-laki bermotor. Begitu pulang ia langsung memberikan nasehat. Yang dibicarakan selalu hal yang sama. Tidak baik perempuan pulang malam, apalagi dengan laki-laki. Lebih baik di rumah saja.
Tak cukup pada Ratna, Nek Syam kemudian juga menemui Ibunya. Mereka bertemu pada satu kesempatan ketika Bu Marni menghampiri tukang sayur yang berhenti di depan rumah Nek Syam. Padahal saat itu, menantu Nek Syam sudah memintannya untuk masuk. Barangkali menantunya tahu apa yang akan dilakukan Nek Syam. Orang tua yang merasa benar karena telah lama hidup, tentu banyak pengalaman. Itulah modal mereka untuk menjadi guru semua orang.
“Mar, anak gadis kau itu jangan dibiarkan pulang malam terus. Tidak enak dipandang. Dia lagi segar-segarnya. Apa kata tetangga.”
“Dia susah diingatkan, Nek. Jua sudah dikasih uang untuk kursus komputer malah dibelankajan. Saya juga bingung, Nek. kakak saya ada yang meminta dia bekerja menjaga toko di luar kota, tapi saya takut melepasnya. Saya juga tidak enak dengan kakak saya.”
“Carikan kerja yang lain.”
“Paling tahannya cuma seminggu, habis itu dia tidak datang lagi.”
“Saya lihat, dia sudah pandai berdandan. Dia juga sering pergi dengan teman laki-lakinya. Kenapa dibiarkan saja. Kau orang tuanya, apa tidak malu dengan tetangga dan keluarga lainnya. Orang akan bilang kau seorang Ibu yang tidak pandai mengurus anak.”
“Saya juga bingung, Nek. Sekolah tidak mau, kursus menjahit juga tidak mau. Ya itu, dia Cuma pergi main.”
“Tanya saja apa yang dia mau. Barangkali dia mau kerja di tempat lain.”
“Sudah sering, Nek. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi kelakuannya semakin sulit dikendalikan.”
“Jangan biarkan keadaan seperti ini terus. Kau juga nantinya yang akan malu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Ratna? Kalau tidak bisa apa-apa, dan bisanya cuma keluyuran dengan laki-laki, kawinkan saja dengan laki-laki yang dipilihnya. Sebelum terjadi apa-apa”
“Keluarga kami juga berpikir seperti itu.”
***
Dan hingga malam ini, kupikir ia akan tetap berada di balik pagar. Menikmati suara organ tunggal hingga pagi. Atau menatap keramaian pesta perkawinan Ratna. Tapi ia telah beranjak, meninggaklan kursi yang ada di depan rumahnya. Tak terlihat lagi daster merah yang membalut keriput tuanya. Barangkali Nek Syam sudah lelah. Besok, ia akan tetap menjadi guru dengan berbagai pengalaman, tak peduli bahwa waktu tentu tidak berputar pada detik yang serupa. Sedang Bu Marni terus tersenyum di malam pesta perkawinan Ratna, anak gadisnya yang baru empat kali datang bulan.
Padang, 2007.
SIAPA PENGARANGNYA?
balas qilatttttttttttt
Oleh: TEGUH on Maret 1, 2008
at 3:58 am
nah kan ada tuh nama pengarangnya di atas
Oleh: hijaumuda on Maret 7, 2008
at 9:53 am
Wulan, pengarang wanita yang dari dulu sudah berbakat. Saya akui saya kalah jika dalam hal menulis cerpen. Namun sayangnya, entah kenapa Wulan jarang nongol di media massa……
hehehehe
Salam
Dari penjaga blog Lentera Susastra
(Nulis komen ini pas lagi denger Kitaro–Agreement di warnet Karanggo jam 17.45 WIB tanggal 22 April 2008
Oleh: Penjaga Blog on April 22, 2008
at 10:41 am