Oleh : Elsya Crownia*
Andaikan ada sepuluh dari anak-anak bangsa yang berusaha memahami budaya dan identitasnya sebagai bagsa yang bermartabat, dan beradab. Ataukah pernah memikirkan, untuk apa mereka duduk dibangku sekolah ataupun universitas?. Namun, mereka hanya terdiam, melongo menunggu jawaban tanpa ada keinginan untuk memahami secara menyeluruh. Cita-cita? Jangankan bertanya tentang cita-cita, bagi mereka hanyalah pasrah terhadap indeks angka, tanpa ada peta kehidupan untuk sepuluh tahun nanti.
Penulis, kadang juga berpikir serasa hidup di zaman yang serba canggih namun miskin dengan ilmu. Namun, dengan segala keterbatasan penulis mencoba untuk meanalogikan dari buku ” Rahasia Mede”. Menurut penulis, bahasa yang dikemas cukup bagus dan lugas. Disamping, permasalahan yang terus menerus menghantui manusia atau konflik pun persis dengan keadaan.
Peradaban baru yang melahirkan manusia-manusia baru;intelek, gaul, dan punya berbagai aksesoris kelengkapan mengantarkan generasi-generasi kuli dan anarki. Layakkah, mereka dianggap intelek dan cerdas? Faktor kemanjaankah?kemerdekaan atau kebebasan?.
Efek Televisi
Penulis mencoba untuk memaparkan permasalahan tersebut diantaranya: televisi sebagai virus pengubah budaya yang menduplikasikan budaya Barat membuat generasi kita kehilangan pedoman. Perlahan-lahan, generasi kita meninggalkan buku sebagai gudang ilmu dikutip ” Selamanya manusia itu butuh kesendirian. Dia membenci televisi. Bukannya benda itu tiran baru yang mengatur hidup manusia? Menakar selera pemirsa dengan nalar yang pendek. Televisi adalah Firaun, Caesar, Napoleon, dan Hitler dalam bentuk baru. Tiran yang selalu merasa tahu urusan setiap manusia. Memenuhi dengan parade kegembiraan. Televisi adalah tiran yang jahat, Dajjal, Lucifer, yang begitu lancang masuk ke area privasi. Hiltler yang kejam pun tidak selancang itu. Televisi adalah nuklur modal, radiasinya menghancurkan tatanan peradaban. Mngembalikan manusia pada hakekat hewani dengan nafsu dasar perut dan kelamin” (Rahasia Meede;32).
Guru Uban sebagai tokoh pendidik yang sangat disegani di dalam masyarakat mempunyai prinsip untuk memahami segala bentuk tirani peradaban yang telah mematikan rasa malu, kasih sayang, dan melahirkan generasi pesimis, malas, dan selalu dinina bobokan.
Kemerdekaan, bagi siswanya adalah kebebasan. Penulis juga menemukan tokoh siswa dan seorang wanita yang salah kaprah dalam memaknai kemerdekaan. Kemerdekaan bagi kedua tokoh tersebut tak ada artinya.
Kolonialisme
Kekecewaan seorang guru akan masa depan anak-anaknya. Nasib bangsa yang telah imbas oleh segelintir kesenangan dan kemudahan dunia. Pun untuk bekerja keras dan kepasrahan anak-anak bangsa terlengah . Generasi kita hanya melongo dan menatap kosong masa depan akibat klonialisme yang dibalut dengan globalisasi. Ya, globalisasi memang menawarkan banyak hal namun, melukai sendi-sendi peradaban Robert Frost mengungkapkan kegundahan dan kerisauan hatinya dalam sebuah puisi
“two roads diverged in a wood, and i-
I took the one less traveled by
And that has made all differences
………………………..
Yet knowing howway leads on o way
I doudd if i should ever come back
(Robert Frost,1953)
Kerisauan, kegundahan yang dialami oleh Robert Frost, di akhir hayatnya terenyuh menyaksikan kemelaratan, pengangguran. Namun, E.S ITO pun mengungkapkan dengan jujur atas kegelisahan generasi-generasinya.
Ya, generasi-generasi yang terlalu pasrah dan mendewakan kesenangan sehingga mereka malas untuk bercita-cita. Dalam novel ini diungkapkan dengan begitu gamblang.
Potret Generasi Masa Kini
Kemajuan yang diabalut modernisasi diam-diam telah menoreh luka, E.S Ito begitu pandai mengolah bahasa bahkan setiap rententan peristiwa sejarah. Disamping itu, kita juga menemukan realitas generasi yang tidak pernah peduli dengan sejarahnya sendiri. Seolah-olah sejarah hanyalahrangkaina peristiwa bohong. Kekecewaan seorang Guru Uban dalam kutipan
“ Guru Uban memaku kakinya persis ditengah-tengah ruang kelas. Di perhatikannya siswanya satu persatu. Sebagian mencatat narasinya. Sebagian lagi melongo, diam, membayangkan pekerjaan sebagi buruh pabrik atau tenaga kerja kasar kontrak lainnya. Guru Uban mengerti cerita sejarah ini akan berlalu secepat masa depan meringkih jiwa mereka yang ringkih. Secepat impian kanak-kanak mereka lenyap ditelan realitas dunia yang tidak adil ( Rahasia Mede; 61).
Setelah membaca kutipan tersebut penulis pun mengakui realitas generasi muda yang hanya membayangkan menjadi seorang pegawai, bahkan hanya segelintir generasi yang menyangsikan akan kerja keras dan usaha. Keenganan untuk menjadi generasi yang luar biasa ataukah realitas modernisasi hingga kehilangan arah dan tujuan hidup.
Kemiskinan, dan pengangguran adalah fakta yang tak habis-habisnya mengerogoti bangsa. Generasi kita tak mau berkarya atau berani mencoba. Bahkan, kesenangan menikmati hidup konsumerisme, kapitalisme, anarkis, yang telah diwarisi
“ itulah pangkal dari segala nasib buruk yang kalian alami, penjajahan mendidik mental moyang kalian untuk teguh dalam menderita malas berkarya. Mental dan sikap hidup yang diwariskan turun temurun sampai generasi kalian, anak-anakku” (Rahasia Mede;61).
Menurut penulis, mental dan sikap generasi muda apabila tetap demikian maka, bangsa ini tidak akan maju dan akan tetap terjajah. Jiwa generasi ini pun juga tergantung pada bimbingan dan perhatian para pendidik, serta untuk menumbuhkan motivasi pun terasa begitu sulit.
Seolah-olah, generasi kita banyak kehilangan kesempatan. Kebebasan yang tidak dimaknai, tetapi hanyalah sebagai slogan. Sikap masa bodoh terhadap kemerdekaan, tetapi hanya ingin menikami kesenangan. Sehingga, lahirlah generasi kemayu yang tak mampu berbuat.
Penulis, merasa buku ini pantas untuk dibaca, karena isinya yang begitu menarik dan menggambarkan setiap persoalan dengan lugas dan tegas. Pesan moral; terselip dalam novel membuat penulis terus bersemangat untuk menggali lebih dalam.
Kita memang tak bisa membohongi fakta, apalagi fakta itu memang benar-benar kita saksikan. Beribu-ribu kasus semuanya melibatkan generasi muda.
*** Penulis Mahasiswi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, bergiat di Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas.