Oleh: hijaumuda | Januari 25, 2008

Surga Mama Kaya

Oleh: Maya Lestari Gf.

Ada satu pertanyaan besar yang selama ini menggantung di benak saya. Darimana kita bisa mengetahui kemuliaan seseorang? Apakah dengan melihat kegemarannya berderma. Kesukaannya membantu orang lain. Atau seringnya ia beribadah? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Sebab, kita mana tahu rahasia hati orang. Kadang kita melihat orang suka membagi-bagi uang, hanya untuk mengesankan bahwa ia pemurah. Sering juga kita melihat ada orang yang rajin beribadah, ternyata Cuma untuk mengesankan kesolehan. Karena itu, kita nggak bisa menilai orang semata-mata dari sisi lahiriahnya saja. Bisa-bisa bikin kecewa.
Beberapa waktu lalu, saya baru dapat jawaban dari pertanyaan tersebut. Ada satu cara paling ampuh untuk mengetahui kemuliaan seseorang. Dari kematiannya. Kita tahu, kematian adalah cerminan kehidupan yang dijalani seseorang. Jika ia menjalani hidup dengan penuh kebaikan dan kemuliaan maka kematiannya menjadi kematian yang mulia. Jika ia menjalani hidup dengan penuh keburukan, kepalsuan, kedustaan, maka kematiannya akan menjadi sebuah keburukan. Karena itu, ketika menghadapi ajal, manusia sesungguhnya tengah menampakkan siapa ia yang sebenarnya. Semua topeng akan ia lepaskan. Ia takkan pernah bisa berpura-pura. Mungkin, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akan terpaksa atau dipaksa jujur.
Darimana saya dapat jawaban atas pertanyaan tersebut? Dari Mama Kaya.
Saya mengenal beliau sekitar empat tahun lalu. Beliau adalah ibu dari sahabat saya. Ketika pertama kali kenal dengan beliau, yang terkesan adalah ketenangan, kesahajaan dan kejujuran. Bibirnya selalu mengukir senyum. Saya tidak pernah satu kalipun melihat beliau tidak tersenyum. Pancaran matanya welas asih. Sepertinya beliau tidak pernah marah. Atau kalau pun pernah, disampaikan dengan cara yang baik. Sepertinya, tidak ada yang sungguh-sungguh menyusahkannya. Semua keadaan, baik atau buruk, diterimanya dengan lapang. Mama Kaya menerima hidup dengan segala susah senangnya. Bila ia menemukan kesukaran, ia tidak mengeluh. Ia akan berupaya mengatasinya. Baik dengan bantuan orang lain maupun tidak. Jika ia menemukan kebahagiaan, ia akan berusaha membaginya kepada begitu banyak orang. Jika ada orang yang ditimpa kesusahan, ia turut sedih, dan bila ada yang ditimpa kebahagiaan ia turut senang. Seolah-olah ialah yang diberi kesenangan itu. Sungguh, sepertinya, tidak terlintas satu titik kedengkianpun di hati beliau.
Tapi, walau bagaimanapun Mama Kaya tetaplah seorang manusia. Beliau bisa lemah, merasa sedih dan tak berdaya menghadapi berbagai cobaan yang menderanya. Dalam usia yang masih begitu muda, beliau harus membesarkan ke enam anaknya nyaris seorang diri. Setiap hari, beliau bekerja keras, mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya. Puluhan tahun lamanya Mama Kaya menghadapi hidup yang keras. Meski demikian, ia tetap berusaha tabah. Semua kesedihan dan penderitaan diadukannya saja pada Tuhan. Ya, darimana lagi seorang makhluk mendapat kekuatan kalau bukan dari Khaliknya.
Tuhan mendengar semua pengaduannya, keluh kesahnya, juga doa-doanya. Ia memberikan jalan hidup yang baik pada keenam anak-anak Mama Kaya. Ia juga menjadikan semua anak-anaknya sukses secara akademik, juga finansial.
Lalu datanglah saat perpisahan. Sore itu beliau hendak mengadakan syukuran. Beliau mandi, mengenakan pakaian putih yang bersih dan wangi, shalat, lalu duduk bersender ke dinding. Tiba-tiba saja beliau berkata, “Mama akan pergi.” Tubuhnya jatuh. Spontan salah seorang anaknya mengucap kalimat syahadat yang diikuti sang mama. Sebelum menutup mata beliau menangkupkan dua tangan ke dada. Lalu tiada.
Kematian yang indah. Tuhan telah membayar lunas semua penderitaan yang pernah dihadapi Mama Kaya pada hari itu. Tuhan membayarnya dengan surga.
**
Kepergian Mama Kayalah yang membuat saya yakin, salah satu tanda kemuliaan seseorang adalah proses kematiannya. Di saat ajal menjelang, manusia tidak akan pernah bisa berkamuflase. Segala benih perbuatan yang ia tanam di dunia, baik atau buruk, akan dituai pada saat itu. Kita memang tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana keadaan kita saat meninggalkan dunia ini. Tapi kita bisa membuat prosesnya menjadi mudah dan mulia. Jika kita memang berniat untuk menjalani hidup ini dengan baik, tabah dan bertanggung jawab.
**
Mama Kaya In Memoriam, 19 Januari 2007


Beri tanggapan

Your response:

Kategori