Oleh: hijaumuda | Januari 25, 2008

Tiga Jam Bersama Rusli Marzuki Saria

Oleh: Nurfitria

Rusli Marzuki Saria atau sehari-hari dipanggil dengan sebutan “Papa”, sudah dikenal sebagai salah seorang penyair senior Indonesia. Beliau sangat disegani oleh kaum tua dan kaum muda karena keunikan yang ada pada dirinya. Papa sangat berbeda dengan penyair-penyair lain. Beliau selalu berpenampilan rapi, dengan jalan tegap dan potongan rambut pendek. Konon penampilan seperti ini disukai Papa sejak mudanya. Semangat muda masih terus melekat di dalam dirinya, meskipun usia telah memasuki gerbang senja.

Dalam Pertemuan diskusi sehari dengan komunitas Hijaumuda, minggu kemarin tanggal 20 Januari 2008 di Yayasan Citra Budaya Indonesia, banyak terungkap siapa Papa sesungguhnya.

Papa mulai terjun di dunia kepenulisan, khususnya menulis puisi sejak tahun 1955. Beliau banyak belajar dari H.B. Jassin dan terinspirasi dengan gaya bahasa yang dipakai Chairil Anwar.

Ada pengalaman menarik yang selalu dikenang Papa. Semasa mudanya, dengan lakon seorang penyair, Papa sering jadi tempat untuk minta tolong bagi teman-temannya yang sedang dimabuk asmara. Tidak jarang mereka datang kepada Papa minta dibuatkan “Surek Untaian” (surat cinta). Karena Papa orangnya suka membaca dan sedikit pandai “maota”, isi surat yang dibuatkannya itu tidaklah karyanya sendiri, melainkan kutipan surat tokoh Zainuddin dalam novel “Di bawah Lindungan Ka’bah” karya Buya Hamka. Kontan saja kami yang mendengarnya ikut tertawa.

Papa dulunya adalah seorang redaktur pada sebuah koran lokal di Sumatra Barat. Sebagai seorang redaktur yang mengolah rubrik puisi, beliau tidak terlalu selektif dalam menerbitkan karya-karya yang masuk, khususnya bagi penyair pemula. Selama karya itu memiliki nilai edukatif, maka Papa pun akan menerbitkan karya tersebut. Papa berbeda dengan redaktur-redaktur lain yang mempunyai kriteria tertentu dalam hal kelayakan terbitnya sebuah karya, apalagi karya yang dibuat oleh penyair pemula. Papa menganggap setiap penyair memiliki keunikan bahasa tersendiri. Papa sering menerbitkan karya penyair pemula sebagai penghargaan karena mereka telah menulis dan sebagai pendorong semangat mereka. Papa pun sering berdiskusi dengan penyair-penyair yang mengirim karya mereka kepada beliau. Bahkan penyair dan penulis yang terkenal sekarang, seperti Yusrizal KW dan Gus Tf Sakai belajar banyak hal dari Papa. Papa sehari-harinya bukanlah seorang yang pelit. Meskipun honornya sebagai redaktur tidaklah besar, tidak mengurungkan niatnya untuk tetap berbagi dengan teman-teman dengan cara mentraktir mereka makan.

Dari sekian banya puisi yang telah dihasilkan, Papa tidak pernah mengkhususkan puisi mana yang paling berkesan. Baginya, puisi itu sama halnya dengan anak-anaknya. Semua mendapat tempat yang khusus di hatinya.

Saat diskusi berlangsung, terlontarlah sebuah pertanyaan dari salah seorang anggota Hijaumuda tentang bagaimana menjadi seorang penulis yang baik. Jawab Papa, penulis besar lahir dari kebiasaannya menulis diary (catatan harian). Menjadi penulis lanjut Papa, terletak dari serius atau tidak seriusnya seseorang dalam menjalaninya. Meskipun cuma memiliki bakat menulis 5%, namun dengan 95% kemauan dan kerja keras, kegiatan menulis dengan sendirinya akan menjadi bagian hidup sehari-hari. Dan untuk menulis, menurut Papa janganlah menunggu datangnya inspirasi atau mood, akan tetapi carilah inspirasi dan mood itu. Serta ciptakanlah bahasa sendiri. Karena seseorang terkenal dengan keunian bahasa yang dihasilkannya.

Di akhir diskusi tidak henti-hentinya Papa mengingatkan penulis pemula untuk terus semangat dalam menulis. Apapun itu, baik menulis cerpen, puisi, essay, dan sebagainya. Karena inilah kami menggelarinya “Sang Motivator”.

Perbincangan dengan papa berlangsung hangat dan menyenangkan. Tak terasa waktu tiga jam berlalu sudah. Pengalaman berbincang dengan sastrawan senior sekaliber papa sangat mengesankan. Di dalam hati kami semua berharap, papa tak kapok berbincang dengan kami-kami yang nyinyir ini. Mudah-mudahan di masa datang, Papa masih berkenan meluangkan sedikit waktunya bagi kami.



Beri tanggapan

Your response:

Kategori