Oleh: hijaumuda | Februari 28, 2008

Memikirkan Ulang Cerita Anak

oleh: Maya Lestari Gf.

 

Setiap tahun, puluhan ribu buku anak diterbitkan di seluruh dunia. Dari jumlah itu, hanya sebagian kecil saja yang betul-betul menarik minat publik. Ambillah contoh Harry Potter karya J.K Rowling, Charlie and The Chocolate Factory karya Road Dahl, seri-seri Narnia karya C.S Lewis, atau Rahasia Hembusan Angin karya Ruth White. Novel-novel lainnya terbiarkan begitu saja di pojok rak. Bukan karena tidak bagus, tapi mungkin, karena tidak terlalu mengesankan.

Bila mengacu pada syarat-syarat cerita anak yang umum berlaku, seperti, kalimat-kalimat cerita mesti pendek-pendek dan tidak ada tragedi di dalam cerita itu. Namun, beberapa novel yang saya sebut di atas malah melanggar kedua syarat itu. Harry Potter diceritakan dengan kalimat-kalimat panjang. Tragedi mewarnai hampir di seluruh serialnya. Mulai dari penyiksaan, pembunuhan, hingga gambaran tragis seekor ular yang tengah memakan manusia. Meski demikian, cerita ini begitu disukai, bukan hanya oleh anak-anak tapi juga orangtua. Seorang ibu bahkan pernah menulis surat pada J.K Rowling sang pengarang Harry Potter, ia tak pernah sabar menunggu malam tiba, untuk membacakan kisah-kisah Harry Potter sebagai pengantar tidur anaknya. Menurutnya, petualangan Harry Potter begitu memikat.

Novel Rahasia Hembusan Angin, yang pernah mendapat penghargaan sebagai buku anak-anak terbaik dari pemerintah Inggris, tak luput dari tragedi. Di dalamnya juga ada cerita mengenai pembunuhan. Ayah salah satu tokoh cerita bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Sang ayah disebutkan tidak kuat menanggung rasa malu, akibat parahnya kerusakan wajahnya.

Bila melihat dua novel di atas, dan besarnya antusiasme publik terhadapnya, tak salah kiranya, jika kita mendefenisikan ulang, bagaimana semestinya sebuah cerita anak.

 

Saya teringat, belasan tahun yang lalu, pernah membaca sebuah novel anak karya Arswendo Atmowiloto. Judulnya saya sudah lupa, tapi jalan ceritanya masih saya ingat dengan baik. Novel itu berkisah tentang sekelompok anak-anak yang begitu penasaran dengan seorang kakek berambut panjang yang tinggal di sebuah rumah nyaris tak terawat. Kakek itu sering dianggap gila dan suka menyakiti oleh tetangga-tetangga di sekitarnya. Ia bahkan digambarkan suka membunuhi anjing-anjing. Pernah suatu kali, pada bulan purnama, ia berkelahi dengan menggunakan pedang, melawan puluhan ekor anjing.  Deskripsi tentang si kakek ini tidak menyenangkan, dan terus terang saja menyeramkan.

Pada awalnya, sekelompok anak ini memang takut pada si kakek. Tapi, rasa penasaran, membawa mereka masuk ke dalam rumah si kakek, mengintip apa saja yang dilakukan si kakek. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai saling berinteraksi. Hingga akhirnya terbukalah apa yang selama ini menjadi rahasia si kakek.

Novel Arswendo tersebut memang tidak sepopuler Harry Potter, Rahasia Hembusan Angin ataupun Charlie and The Chocolate Factory, tapi ada kesamaan di sana. Sama-sama memiliki daya gugah.

 

Menurut saya, ada empat hal yang membuat kisah-kisah di atas begitu memikat pembacanya. Pertama, adanya ajakan untuk jujur pada diri sendiri. Menerima kekurangan dan kelebihan diri apa adanya. Ajakan ini tidak diungkapkan secara eksplisit, tapi implisit, lewat penggambaran tokoh-tokohnya. Harry Potter—di luar kapasitasnya selaku seorang penyihir—sama saja dengan anak-anak kebanyakan. Mendapat nilai jelek di sekolah, dihukum karena bandel, merasa takut, mudah khawatir, dan punya teman-teman yang setia. Sebagai tokoh utama, Harry Potter juga sering tampil mengecewakan dengan keegoisan sifatnya, dan seringnya ia mencari pembenaran atas perbuatannya. Namun, justru dengan itu ia tampak lebih manusiawi dan masuk akal. Dan, pembaca bisa menerima itu semua sebagai sisi lain seorang Harry Potter. Kejujuran bocah penyihir ini terhadap kekurangan dan kelebihan dirinya, membuat para pembaca anak-anak termotivasi pula untuk menerima diri mereka apa adanya. Bagaimanapun, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Hal yang sama juga tampak pada novel Rahasia Hembusan Angin. Si Tokoh utama digambarkan sebagai anak perempuan yang tertutup, pendiam  serta mudah khawatir. Hal ini dikarenakan ia harus menanggung kenyataan, kematian tragis ayahnya. Bertahun lamanya ia menutup diri. Keadaan itu kemudian berubah ketika sepupunya datang. Sepupunya ini juga punya pengalaman tak kalah tragisnya. Ditinggal pergi ibu sendiri. Meski demikian, si sepupu terlihat tabah. Ini mendorong tokoh utama, untuk jujur pula pada kenyataan. Ia mulai belajar menerima keadaan apa adanya.

Hal menarik kedua adalah, novel-novel anak ini mengajarkan, siapa saja bisa menggapai impiannya, selama mereka mau berusaha. Tak ada orang yang ditakdirkan jadi pecundang di dunia ini. Tokoh Charlie dalam Charlie and The Chocolate Factory, digambarkan punya impian untuk berkunjung ke pabrik coklat paling terkenal di dunia. Untuk itu, ia berusaha mencari tiket emas yang diletakkan dalam batangan coklat. Meski harga coklat itu mahal dan Charlie berasal dari keluarga miskin, tapi kemauan keras membuat ia berhasil mendapatkan tiket itu. Hal ini mirip dengan yang diucapkan Paulo Coelho, ‘jika kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka seluruh dunia akan ikut membantumu mencapainya.’

Serupa dengan Charlie, tokoh Neville Longbottom, sahabat Harry Potter yang dikenal sebagai pecundang, mampu bangkit dan menunjukkan kekuatannya. Ini dikarenakan ia percaya, kekuatan milik siapa saja yang berusaha. Hasil dari keyakinan itu tampil begitu menakjubkan dalam Harry Potter seri terakhir, The Deathly Hollow. Neville si pecundang, mampu memimpin sepasukan penyihir pelajar untuk melawan Voldemort, sang kekuatan hitam. Bahkan, Neville mampu menarik pedang Gryffindor dari dalam topi seleksi yang konon hanya bisa dilakukan mereka yang berhati bersih dan pemberani.

Hal menarik ketiga adalah, adanya persahabatan yang begitu kuat dalam setiap kisah. Seperti kita ketahui, manusia memiliki naluri kedirian dan berkelompok. Naluri kedirian berupa keinginan untuk dihargai dan diterima, sedang naluri berkelompok, adalah keinginan untuk menemukan orang-orang yang bisa menghargai dan menerima. Dalam Harry Potter, Charlie and The Chocolate Factory, dan Rahasia Hembusan Angin, pembaca melihat indahnya persahabatan yang ditunjukkan tokoh-tokohnya dan ini sangat mengesankan. Harry Potter dan teman-temannya rela mati untuk menyelamatkan yang lainnya. Charlie, begitu dicintai dan didukung oleh orangtuanya, yang tampil lebih mirip sahabat. Dukungan ini tampak ketika mereka memberika uang pada Charlie untuk membeli coklat impiannya, padahal mereka miskin. Sedang tokoh-tokoh dalam Rahasia Hembusan Angin, saling mendukung untuk menyembuhkan luka jiwa masing-masing.

Yang keempat, adanya pengajaran untuk memahami tindakan orang lain. Pembaca diajarkan untuk tidak begitu saja memvonis orang lain hanya dari tindakannya. Pembaca diajarkan untuk melihat apa yang mendasari tindakan itu. Dalam Rahasia Hembusan Angin, pembaca melalui tokoh-tokoh utamanya, diajar untuk memahami tindakan orang lain, meskipun tindakan itu menyakitkan. Sebab, mungkin saja orang-orang melakukan tindakan bodoh, karena mereka tidak mampu lagi menanggung penderitaan. Si Tokoh utama diajarkan untuk memahami mengapa ayahnya bunuh diri. Dengan memahami muncul permaafan. Dari permaafan muncul kejujuran. Kejujuran membuat kita bisa menerima kekurangan diri sendiri dan menjalani hidup ini dengan apa adanya. Hal yang sama terlihat pada kisah Severus Snape, guru yang paling dibenci Harry Potter. Snape sering menampakkan permusuhan yang sangat pada Harry Potter. Di akhir hayat Snape, baru terungkap alasan tindakannya itu. Snape ingin melindungi Harry dari Voldemort, musuh utamanya. Terbukanya rahasia Snape, membuat Harry dan juga pembaca disadarkan, bahwa kita tak bisa melulu menilai orang lain hanya dari tindakannya.

Hal yang sama juga diungkapkan novel Arswendo Atmowiloto yang saya ceritakan di atas. Pembaca disadarkan untuk tidak begitu saja memvonis orang lain. Karena, kadang-kadang orang melakukan tindakan bodoh, bukan karena mereka memang bodoh, tapi karena mereka tak sempurna,  sama seperti kita.

 

Menurut saya, semestinya beginilah sebuah cerita anak. Mengajarkan anak-anak pada pemahaman akan manusia, akan kekurangan dan kelemahan dirinya sendiri. Mengajak anak-anak untuk menjadi manusia jujur, tidak memakai topeng kepura-puraan. Memotivasi anak-anak untuk menjadi lebih baik dari hari ke harinya. Mengajarkan anak, untuk bijaksana dalam memandang segala sesuatu.

Apakah hal ini berat? Saya rasa tidak. Sebab novel-novel yang saya sebut di atas mampu menyampaikan pesan-pesan kebijaksanaan ini dengan baik dan tanpa menggurui. Di luar adegan-adegan tragis yang ada di dalamnya, saya bisa melihat novel-novel tersebut memenuhi syarat sebagai sebuah cerita anak.

 

Padang, 10 Februari 2008, Komunitas Hijaumuda


Beri tanggapan

Your response:

Kategori