Oleh: hijaumuda | April 27, 2008

Jagung Bakar, Suatu Sore

Dalam hidup ini kita pasti banyak menerima sesuatu dari orang lain. Sesuatu itu bisa berupa benda, perhatian dan kasih sayang atau sekadar sapaan. Beberapa diantaranya kita simpan di lemari atau di hati, yang lainnya terabaikan. Diabaikan mungkin karena kita anggap tak penting, tak berguna atau sekadar membuang-buang waktu. Tapi, tahukah kamu, seremeh atau sekecil apapun pemberian itu, sesungguhnya berasal dari suatu mata air yang sangat besar. Untuk itu ada sebuah contoh sederhana.

Suatu sore, ketika di kampung saya ingin sekali makan jagung bakar. Pasalnya, beberapa waktu sebelumnya saya melewati becak penjual jagung bakar. Tanpa sengaja, hidung saya membaui aroma jagung yang hangat, manis dan berbumbu. Seketika saraf-saraf lapar saya berteriak: minta jagung bakar!! Hmm, kebetulan saja saat itu cuaca dingin dan bergerimis. Makan jagung bakar sedikit banyaknya akan menghangatkan.

Di rumah, saya menunggu becak jagung bakar itu datang. Malang nian, setelah lama ditunggu tak jua datang. Dengan agak sedih saya bilang ke mama, “ma, tadi ada jagung bakar, tapi tak juga lewat. Padahal ingin makan jagung bakar.”

Nah, yang namanya orangtua, pasti sayaaang banget sama anak. Begitu papa pulang, mama langsung ngomong, “Pa, Maya ingin makan jagung bakar. Coba papa kejar becaknya, kayaknya udah jauh.”

Maka, berbaliklah papa dengan motornya. Menempuhi senja bergerimis, mengejar si penjual jagung bakar. Saya sendiri nggak tahu peristiwa ini. Sampai suatu ketika mama datang menyodorkan sepiring jagung bakar. Saya yang tadinya kecewa langsung hepi. Jagung bakar yang ditunggu datang juga akhirnya. Kalau udah rezeki, emang nggak lari kemana.

Malam itu saya makan satu jagung bakar. Di piring masih tersisa dua. Tapi saya udah nggak peduli lagi, toh keinginan makan jagung udah terpenuhi.

Keesokan paginya saya melihat dua jagung bakar itu masih ada di piring. Mama menghampiri.

“Maya tadi malam minta jagung, nggak dihabiskan. Papa udah capek beliin.”

Deg! Langsung tersentak hati saya mendengarnya. Teringat kembali semua cerita mama mengenai kisah di balik jagung bakar itu. Mama yang terus mengingat keinginan anaknya. Menyampaikannya pada papa begitu pulang. Papa yang rela menempuhi gerimis hanya untuk mengejar penjual jagung bakar, karena begitu inginnya beliau membahagiakan anaknya. Oh, astaga. Mengapa saya tidak mengingat itu semua. Benda di piring itu, secara lahiriah wujudnya memang Cuma jagung bakar. Tapi secara batiniah, ia adalah perwujudan kasih sayang yang teramat besar. Dengan perasaan berdosa saya mengambil jagung itu. Memakannya, memang sudah dingin dan terus terang sudah tak seenak semalam, saat masih hangat. Tapi, saya tahu, yang saya makan itu bukan sekadar jagung yang sudah dingin. Tapi sebuah cinta besar, yang berasal dari mata air yang tak pernah habis.

Kadang, kita memang sering lupa atau khilaf. Sering abai pada setiap pemberian. Baik pemberian itu berupa benda atau perhatian. Kadang kita menganggap semua itu sudah sewajarnya. Just take it as granted. Ayah dan ibu membelikan kita pakaian, menyiapkan sarapan, memberi uang sebelum pergi sekolah, kita anggap itu sesuatu yang biasa. Toh memang sudah kewajiban ayah dan ibu menafkahi anak-anaknya. Tapi mengertikah, bila tak ada kasih sayang di sana, tak mungkin kita akan diurusi sedemikian cermat hingga sebesar ini. Tak mungkin ayah akan bekerja keras sedemikian rupa mencari nafkah. Tak mungkin ibu akan memilih tinggal di rumah saja demi mengurusi anak-anaknya. Trus, ingatkah, saat kita ulangtahun, begitu banyak orang yang memberikan kado untuk kita. Sebagian dari kado itu itu mungkin terabaikan beberapa bulan berikutnya. Tanpa kita menyadari, kado-kado itu mungkin diberi karena ada perhatian dan kasih sayang yang besar pada diri kita.

Intinya, setiap pemberian apakah dari orangtua atau teman, tak ada yang ‘sudah semestinya demikian’ (just take it as granted). Semua itu pasti datang dari kedalaman perasaan. Datang dari sebuah mata air jernih. Mata air cinta. Tergantung kita, apakah akan memelihara mata air itu tetap jernih, atau justru mengeruhkannya.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori