Oleh: hijaumuda | April 27, 2008

Pipis di Kolam Renang

Setiap kali memasuki kolam renang, saya sering terganggu oleh satu pertanyaan: air di kolam ini steril gak sih? Maksudnya, tentu saja bukan steril dari kuman, tapi steril dari hal lain. Yakni: pipis. Kenapa sih pertanyaan bodoh ini sering mampir di benak saya? Sebabnya, terjadi bertahun lalu.

Waktu itu saya masih jadi guru TK. Sekolah saya memiliki agenda tiap minggu untuk membawa murid-muridnya ke kolam renang. Suatu hari, giliran saya datang untuk mengawal anak-anak ini ke kolam. Tentu saja saya tak sendiri. Ada guru lain yang ikut dan beberapa orang tua murid. Waktu itu rasanya asyik sekali. Anak-anak gembira, saya juga. Ya, tentu saja. Siapa sih yang nggak senang melihat tawa bahagia di wajah anak-anak? Anak-anak adalah makhluk tercantik dan paling manis di dunia. Jadi, kalo mereka tertawa, dunia ini rasanya berwarna bangeeet gitu loh.

Tapi kemudian, kebahagiaan di hati saya itu terganggu oleh satu hal. Seorang murid cewek yang asyik berenang-renang dengan bannya tiba-tiba berhenti di tengah kolam. Matanya mencari-cari sosok sang mama. Lalu, setelah ketemu ia berteriak, “Maaa! Pipis!!”

Kontan si mama kaget. Mungkin kaget karena diteriaki anaknya saat sedang asyik ngelamun, atau kaget karena heran. Kok, di dalam air anaknya masih kepikiran untuk minta pipis? Spontan sang mama menjawab.

“Ya, pipis aja!”

Si anak rupanya gak mengerti maksud si mama. Rupanya, ia berpikir, pipis itu ya di kamar mandi. Kolam renang bukan tempat untuk buang hajat. Ia berteriak sekali lagi. “Maaa! Pipiss!” kali ini disertai rengekan.

Mamanya membesarkan mata.

“Ya, udah! Pipis di sana aja!!”

Si anak makin nggak ngerti. Ia berteriak sekali lagi.

“Maaa! Pipisss!!”

Si mama udah mulai kesal. Sambil melototi anaknya ia berteriak.

“Pipis aja di sana!!”

Astaganaga!

Untung saja si anak malang cepat diselamatkan gurunya. Ia diangkat dari kolam renang dan dibawa ke kamar mandi. Ugh, rupanya si anak tahu, pipis itu ya di kamar mandi, bukan di kolam renang. Etika seperti ini ia ingat terus meski kebelet. Mungkin ia belum paham betul hikmah dari tindakannya ini, tapi pasti, ketika besar nanti insyaAllah ia tumbuh menjadi anak yang menghargai orang lain.

Menghargai orang lain? Ya. Kalo diliat-liat emang sepertinya sederhana banget. Jangan pipis di kolam renang, karena itu bukan tempatnya. Dengan mengerti tempat segala sesuatu, kita sesungguhnya tengah menghargai diri sendiri dan orang lain. Orang yang menyengajakan diri pipis di sana, berarti nggak peduli orang lain. Ia biarkan orang berenang-renang di air kolam yang tercemar pipisnya. Gawatnya lagi, orang ini bahkan juga rela berenang-renang di antara air pipisnya sendiri. Busyeet deh.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menemukan orang-orang yang nggak peduli diri sendiri dan orang lain seperti ini. Misalnya saja saat lampu merah. Hampir semua kendaraan menyerobot untuk mendapat tempat paling depan. Tujuannya, agar menjadi orang pertama yang melaju saat lampu hijau. Tapi ada yang perlu dicatat di sini. Saking inginnya berdiri di depan, kebanyakan kendaraan itu justru berdiri di jalur kiri. Bagian yang seharusnya kosong, agar kendaraan yang hendak belok kiri bebas melaju. Akibatnya? Kendaraan yang hendak ke kiri terpaksa ikut berhenti saat lampu merah. Nah, apa nggak zalim namanya kalo begitu?

Kita tahu, orang bisa menilai diri kita dari cara kita menghargai diri sendiri dan orang lain. Nah sekarang coba pikirkan, nilai apa yang disematkan orang pada kita, saat tahu kita pipis di kolam renang atau berdiri di jalur kiri saat lampu merah?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori