Pernah nonton pertunjukan? Saya rasa kita semua pernah melakukannya. Nonton pertunjukan besar maupun kecil. Biasanya, setiap kali bintang pertunjukan usai menampilkan sesuatu, kita akan bertepuk tangan. Baik karena kagum maupun ikut-ikutan. Bagi yang kagum, merasa senang karena telah menikmati sesuatu yang memuaskan hatinya. Bagi yang ikut-ikutan, segan tak bertepuk. Jadi, bertepuk tangan sajalah. Plok…plok…plok….
Ternyata, perkara tepuk tangan ini bukan hal yang sepele. Karena tepuk tangan sebenarnya bukan semata-mata sebuah tindakan tanpa kesadaran. Lebih dari itu, tepuk tangan merupakan sebentuk pemahaman kita akan kelebihan orang lain, dan mengakuinya dengan spontan. Sangat mudah mengenali orang yang tepuk tangan karena mengapresiasi, atau sekadar ikut-ikutan saja.
Mereka yang termasuk golongan pertama, akan bertepuk tangan dengan semangat. Orang lain mau bertepuk atau tidak ia tak peduli, yang penting ia menunjukkan apresiasinya. Menunjukkan penghargaan. Mereka yang masuk golongan kedua, suara tepuk tangannya lemah, cenderung enggan. Pun paling cuma sekadar mempertemukan dua telapak tangan saja, tak ada bunyinya. Bertepuk enggan paling dua atau tiga kali. Setelah itu berhenti.
Mungkin kita tak menyadari, bahwa melalui bahasa tubuh satu ini, sebenarnya kita menyampaikan paling tidak tiga hal pada yang ditepuki.
Pertama, kita katakan, bahwa kita menghargai keberaniannya melakukan atau mengatakan sesuatu di depan kita. Tak semua orang sanggup melakukannya. Itu berarti, keberaniannya tampil di depan banyak orang merupakan sebuah prestasi.
Kedua, kita katakan, bahwa kita paham apa yang dilakukan atau dikatakannya. Dengan demikian, yang bersangkutan tahu bahwa maksudnya sampai.
Ketiga, kita katakan, bahwa kita melihat dan mendengarkan apa yang ia lakukan atau katakan. Kita tidak abai pada penampilannya.
Memang, untuk mengapresiasi orang lain itu sangat tidak mudah. Sebab ini menyangkut kemampuan kita untuk mengakui kelebihan dan menghargai karya orang lain. Saya sering melihat di setiap pertunjukan seni, betapa sangat sedikit orang yang bertepuk tangan karena mengapresiasi. Yang lain bertepuk tangan hanya ikut-ikutan. Segan untuk tak bertepuk. Seolah-olah, bertepuk tangan termasuk pekerjaan yang berat untuk dilakukan.
Beberapa hari lalu saya melihat penampilan Putu Wijaya di Balai Bahasa. Ia menampilkan sebuah monolog dengan sangat mengesankan. Orang-orang yang melihat penampilannya sangat mudah bertepuk. Tepuk tangan itu mungkin lahir karena tiga alasan. Pertama, karena penampilan Putu Wijaya memang bagus. Kedua, bertepuk karena yang tampil seorang Putu Wijaya. Dan ketiga, ikut-ikutan saja.
Melihat apresiasi terhadap Putu Wijaya, membuat saya teringat pengalaman bertahun lalu, saat masih duduk di bangku pelajaran. Dulu, seorang teman berencana hendak menampilkan sesuatu di depan kelas. Jadi, ia menyiapkan diri sebaiknya. Ia berlatih siang malam. Terus-terusan meminta koreksi saya bila ada yang salah dalam latihannya. Pas hari H, ia mempresentasikan karyanya dengan baik sekali. Usahanya pantas diberi tepuk tangan. Namun, apa yang terjadi? Tak ada satupun yang bertepuk. Tidak teman-temannya, tidak pula guru. Bahkan, senyuman pun tak mampir saat itu. Saya bingung, juga heran. Tidakkah sebuah keberanian pantas diberi tepuk tangan? Tidakkah sebuah karya pantas diberi apresiasi? Mengapa begitu pelit memberi sedikit hati, untuk menghargai penampilan orang lain? Mengapa begitu susah untuk sekadar memberi tepuk tangan?
Tahukah, saat kita memberi tepuk tangan penghargaan pada seseorang, sesungguhnya kita tengah menciptakan satu lompatan besar di jiwa orang tersebut. Kita membuat orang itu merasa bahwa ia berharga. Punya sesuatu yang bisa membuat bangga. Dan mungkin, itu memotivasi dia untuk melakukan hal-hal yang lebih besar.
Ah, ternyata tepuk tangan tidak seremeh kelihatannya. Begitu banyak makna di dalamnya. Jadi, jangalah segan melakukannya. Bertepuk tangan sajalah. Plok…plok…plok….
Oleh: hijaumuda | April 27, 2008
Plok…plok…plok…
Ditulis dalam Kolom Maya