<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>hijaumuda</title>
	<atom:link href="http://hijaumuda.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hijaumuda.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Apr 2008 08:08:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hijaumuda.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>hijaumuda</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hijaumuda.wordpress.com/osd.xml" title="hijaumuda" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hijaumuda.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pipis di Kolam Renang</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/pipis-di-kolam-renang/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/pipis-di-kolam-renang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 08:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali memasuki kolam renang, saya sering terganggu oleh satu pertanyaan: air di kolam ini steril gak sih? Maksudnya, tentu saja bukan steril dari kuman, tapi steril dari hal lain. Yakni: pipis. Kenapa sih pertanyaan bodoh ini sering mampir di benak saya? Sebabnya, terjadi bertahun lalu. Waktu itu saya masih jadi guru TK. Sekolah saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=25&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap kali memasuki kolam renang, saya sering terganggu oleh satu pertanyaan: air di kolam ini steril gak sih? Maksudnya, tentu saja bukan steril dari kuman, tapi steril dari hal lain. Yakni: pipis. Kenapa sih pertanyaan bodoh ini sering mampir di benak saya? Sebabnya, terjadi bertahun lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Waktu itu saya masih jadi guru TK. Sekolah saya memiliki agenda tiap minggu untuk membawa murid-muridnya ke kolam renang. Suatu hari, giliran saya datang untuk mengawal anak-anak ini ke kolam. Tentu saja saya tak sendiri. Ada guru lain yang ikut dan beberapa orang tua murid. Waktu itu rasanya asyik sekali. Anak-anak gembira, saya juga. Ya, tentu saja. Siapa sih yang nggak senang melihat tawa bahagia di wajah anak-anak? Anak-anak adalah makhluk tercantik dan paling manis di dunia. Jadi, kalo mereka tertawa, dunia ini rasanya berwarna bangeeet gitu loh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi kemudian, kebahagiaan di hati saya itu terganggu oleh satu hal. Seorang murid cewek yang asyik berenang-renang dengan bannya tiba-tiba berhenti di tengah kolam. Matanya mencari-cari sosok sang mama. Lalu, setelah ketemu ia berteriak, “Maaa! Pipis!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kontan si mama kaget. Mungkin kaget karena diteriaki anaknya saat sedang asyik ngelamun, atau kaget karena heran. Kok, di dalam air anaknya masih kepikiran untuk minta pipis? Spontan sang mama menjawab.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Ya, pipis aja!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si anak rupanya gak mengerti maksud si mama. Rupanya, ia berpikir, pipis itu ya di kamar mandi. Kolam renang bukan tempat untuk buang hajat. Ia berteriak sekali lagi. “Maaa! Pipiss!” kali ini disertai rengekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Mamanya membesarkan mata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Ya, udah! Pipis di sana aja!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si anak makin nggak ngerti. Ia berteriak sekali lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Maaa! Pipisss!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si mama udah mulai kesal. Sambil melototi anaknya ia berteriak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Pipis aja di sana!!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Astaganaga!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untung saja si anak malang cepat diselamatkan gurunya. Ia diangkat dari kolam renang dan dibawa ke kamar mandi. Ugh, rupanya si anak tahu, pipis itu ya di kamar mandi, bukan di kolam renang. Etika seperti ini ia ingat terus meski kebelet. Mungkin ia belum paham betul hikmah dari tindakannya ini, tapi pasti, ketika besar nanti insyaAllah ia tumbuh menjadi anak yang menghargai orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menghargai orang lain? Ya. Kalo diliat-liat emang sepertinya sederhana banget. Jangan pipis di kolam renang, karena itu bukan tempatnya. Dengan mengerti tempat segala sesuatu, kita sesungguhnya tengah menghargai diri sendiri dan orang lain. Orang yang menyengajakan diri pipis di sana, berarti nggak peduli orang lain. Ia biarkan orang berenang-renang di air kolam yang tercemar pipisnya. Gawatnya lagi, orang ini bahkan juga rela berenang-renang di antara air pipisnya sendiri. Busyeet deh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menemukan orang-orang yang nggak peduli diri sendiri dan orang lain seperti ini. Misalnya saja saat lampu merah. Hampir semua kendaraan menyerobot untuk mendapat tempat paling depan. Tujuannya, agar menjadi orang pertama yang melaju saat lampu hijau. Tapi ada yang perlu dicatat di sini. Saking inginnya berdiri di depan, kebanyakan kendaraan itu justru berdiri di jalur kiri. Bagian yang seharusnya kosong, agar kendaraan yang hendak belok kiri bebas melaju. <span> </span>Akibatnya? Kendaraan yang hendak ke kiri terpaksa ikut berhenti saat lampu merah. Nah, apa nggak zalim namanya kalo begitu? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kita tahu, orang bisa menilai diri kita dari cara kita menghargai diri sendiri dan orang lain. Nah sekarang coba pikirkan, nilai apa yang disematkan orang pada kita, saat tahu kita pipis di kolam renang atau berdiri di jalur kiri saat lampu merah? </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=25&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/pipis-di-kolam-renang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jagung Bakar, Suatu Sore</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/jagung-bakar-suatu-sore/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/jagung-bakar-suatu-sore/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 08:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup ini kita pasti banyak menerima sesuatu dari orang lain. Sesuatu itu bisa berupa benda, perhatian dan kasih sayang atau sekadar sapaan. Beberapa diantaranya kita simpan di lemari atau di hati, yang lainnya terabaikan. Diabaikan mungkin karena kita anggap tak penting, tak berguna atau sekadar membuang-buang waktu. Tapi, tahukah kamu, seremeh atau sekecil apapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=24&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Dalam hidup ini kita pasti banyak menerima sesuatu dari orang lain. Sesuatu itu bisa berupa benda, perhatian dan kasih sayang atau sekadar sapaan. Beberapa diantaranya kita simpan di lemari atau di hati, yang lainnya terabaikan. Diabaikan mungkin karena kita anggap tak penting, tak berguna atau sekadar membuang-buang waktu. Tapi, tahukah kamu, seremeh atau sekecil apapun pemberian itu, sesungguhnya berasal dari suatu mata air yang sangat besar. Untuk itu ada sebuah contoh sederhana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Suatu sore, ketika di kampung saya ingin sekali makan jagung bakar. Pasalnya, beberapa waktu sebelumnya saya melewati becak penjual jagung bakar. Tanpa sengaja, hidung saya<span> </span>membaui aroma jagung yang hangat, manis dan berbumbu. Seketika saraf-saraf lapar saya berteriak: minta jagung bakar!! Hmm, kebetulan saja saat itu cuaca dingin dan bergerimis. Makan jagung bakar sedikit banyaknya akan menghangatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di rumah, saya menunggu becak jagung bakar itu datang. Malang nian, setelah lama ditunggu tak jua datang. Dengan agak sedih saya bilang ke mama, “ma, tadi ada jagung bakar, tapi tak juga lewat. Padahal ingin makan jagung bakar.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nah, yang namanya orangtua, pasti sayaaang banget sama anak. Begitu papa pulang, mama langsung ngomong, “Pa, Maya ingin makan jagung bakar. Coba papa kejar becaknya, kayaknya udah jauh.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Maka, berbaliklah papa dengan motornya. Menempuhi senja bergerimis, mengejar si penjual jagung bakar. Saya sendiri nggak tahu peristiwa ini. Sampai suatu ketika mama datang menyodorkan sepiring jagung bakar. Saya yang tadinya kecewa langsung hepi. Jagung bakar yang ditunggu datang juga akhirnya. Kalau udah rezeki, emang nggak lari kemana.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Malam itu saya makan satu jagung bakar. Di piring masih tersisa dua. Tapi saya udah nggak peduli lagi, toh keinginan makan jagung udah terpenuhi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Keesokan paginya saya melihat dua jagung bakar itu masih ada di piring. Mama menghampiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Maya tadi malam minta jagung, nggak dihabiskan. Papa udah capek beliin.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Deg! Langsung tersentak hati saya mendengarnya. Teringat kembali semua cerita mama mengenai kisah di balik jagung bakar itu. Mama yang terus mengingat keinginan anaknya. Menyampaikannya pada papa begitu pulang. Papa yang rela menempuhi gerimis hanya untuk mengejar penjual jagung bakar, karena begitu inginnya beliau membahagiakan anaknya. Oh, astaga. Mengapa saya tidak mengingat itu semua. Benda di piring itu, secara lahiriah wujudnya memang Cuma jagung bakar. Tapi secara batiniah, ia adalah perwujudan kasih sayang yang teramat besar. Dengan perasaan berdosa saya mengambil jagung itu. Memakannya, memang sudah dingin dan terus terang sudah tak seenak semalam, saat masih hangat. Tapi, saya tahu, yang saya makan itu bukan sekadar jagung yang sudah dingin. Tapi sebuah cinta besar, yang berasal dari mata air yang tak pernah habis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kadang, kita memang sering lupa atau khilaf. Sering abai pada setiap pemberian. Baik pemberian itu berupa benda atau perhatian. Kadang kita menganggap semua itu sudah sewajarnya. <em>Just take it as granted.</em> Ayah dan ibu membelikan kita pakaian, menyiapkan sarapan, memberi uang sebelum pergi sekolah, kita anggap itu sesuatu yang biasa. Toh memang sudah kewajiban ayah dan ibu menafkahi anak-anaknya. Tapi mengertikah, bila tak ada kasih sayang di sana, tak mungkin kita akan diurusi sedemikian cermat hingga sebesar ini. Tak mungkin ayah akan bekerja keras sedemikian rupa mencari nafkah. <span> </span>Tak mungkin ibu akan memilih tinggal di rumah saja demi mengurusi anak-anaknya. Trus, ingatkah, saat kita ulangtahun, begitu banyak orang yang memberikan kado untuk kita. Sebagian dari kado itu itu mungkin terabaikan beberapa bulan berikutnya. Tanpa kita menyadari, kado-kado itu mungkin diberi karena ada perhatian dan kasih sayang yang besar pada diri kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Intinya, setiap pemberian apakah dari orangtua atau teman, tak ada yang ‘sudah semestinya demikian’ (<em>just take it as granted</em>). Semua itu pasti datang dari kedalaman perasaan. Datang dari sebuah mata air jernih. Mata air cinta. Tergantung kita, apakah akan memelihara mata air itu tetap jernih, atau justru mengeruhkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=24&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/jagung-bakar-suatu-sore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Plok&#8230;plok&#8230;plok&#8230;</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/plokplokplok/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/plokplokplok/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 08:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kolom Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Pernah nonton pertunjukan? Saya rasa kita semua pernah melakukannya. Nonton pertunjukan besar maupun kecil. Biasanya, setiap kali bintang pertunjukan usai menampilkan sesuatu, kita akan bertepuk tangan. Baik karena kagum maupun ikut-ikutan. Bagi yang kagum, merasa senang karena telah menikmati sesuatu yang memuaskan hatinya. Bagi yang ikut-ikutan, segan tak bertepuk. Jadi, bertepuk tangan sajalah. Plok&#8230;plok&#8230;plok&#8230;. Ternyata, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=23&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah nonton pertunjukan? Saya rasa kita semua pernah melakukannya. Nonton pertunjukan besar maupun kecil. Biasanya, setiap kali bintang pertunjukan usai menampilkan sesuatu, kita akan bertepuk tangan. Baik karena kagum maupun ikut-ikutan. Bagi yang kagum, merasa senang karena telah menikmati sesuatu yang memuaskan hatinya. Bagi yang ikut-ikutan, segan tak bertepuk. Jadi, bertepuk tangan sajalah. Plok&#8230;plok&#8230;plok&#8230;.<br />
Ternyata, perkara tepuk tangan ini bukan hal yang sepele. Karena tepuk tangan sebenarnya bukan semata-mata sebuah tindakan tanpa kesadaran. Lebih dari itu, tepuk tangan merupakan sebentuk pemahaman kita akan kelebihan orang lain, dan mengakuinya dengan spontan. Sangat mudah mengenali orang yang tepuk tangan karena mengapresiasi, atau sekadar ikut-ikutan saja.<br />
Mereka yang termasuk golongan pertama, akan bertepuk tangan dengan semangat. Orang lain mau bertepuk atau tidak ia tak peduli, yang penting ia menunjukkan apresiasinya. Menunjukkan penghargaan. Mereka yang masuk golongan kedua, suara tepuk tangannya lemah, cenderung enggan. Pun paling cuma sekadar mempertemukan dua telapak tangan saja, tak ada bunyinya. Bertepuk enggan paling dua atau tiga kali. Setelah itu berhenti.<br />
Mungkin kita tak menyadari, bahwa melalui bahasa tubuh satu ini, sebenarnya kita menyampaikan paling tidak tiga hal pada yang ditepuki.<br />
Pertama, kita katakan, bahwa kita menghargai keberaniannya melakukan atau mengatakan sesuatu di depan kita. Tak semua orang sanggup melakukannya. Itu berarti, keberaniannya tampil di depan banyak orang merupakan sebuah prestasi.<br />
Kedua, kita katakan, bahwa kita paham apa yang dilakukan atau dikatakannya. Dengan demikian, yang bersangkutan tahu bahwa maksudnya sampai.<br />
Ketiga, kita katakan, bahwa kita melihat dan mendengarkan apa yang ia lakukan atau katakan. Kita tidak abai pada penampilannya.<br />
Memang, untuk mengapresiasi orang lain itu sangat tidak mudah. Sebab ini menyangkut kemampuan kita untuk mengakui kelebihan dan menghargai karya orang lain. Saya sering melihat di setiap pertunjukan seni, betapa sangat sedikit orang yang bertepuk tangan karena mengapresiasi. Yang lain bertepuk tangan hanya ikut-ikutan. Segan untuk tak bertepuk. Seolah-olah, bertepuk tangan termasuk pekerjaan yang berat untuk dilakukan.<br />
Beberapa hari lalu saya melihat penampilan Putu Wijaya di Balai Bahasa. Ia menampilkan sebuah monolog dengan sangat mengesankan. Orang-orang yang melihat penampilannya sangat mudah bertepuk. Tepuk tangan itu mungkin lahir karena tiga alasan. Pertama, karena penampilan Putu Wijaya memang bagus. Kedua, bertepuk karena yang tampil seorang Putu Wijaya. Dan ketiga, ikut-ikutan saja.<br />
Melihat apresiasi terhadap Putu Wijaya, membuat saya teringat pengalaman bertahun lalu, saat masih duduk di bangku pelajaran. Dulu, seorang teman berencana hendak menampilkan sesuatu di depan kelas. Jadi, ia menyiapkan diri sebaiknya. Ia berlatih siang malam. Terus-terusan meminta koreksi saya bila ada yang salah dalam latihannya. Pas hari H, ia mempresentasikan karyanya dengan baik sekali. Usahanya pantas diberi tepuk tangan. Namun, apa yang terjadi? Tak ada satupun yang bertepuk. Tidak teman-temannya, tidak pula guru. Bahkan, senyuman pun tak mampir saat itu. Saya bingung, juga heran. Tidakkah sebuah keberanian pantas diberi tepuk tangan? Tidakkah sebuah karya pantas diberi apresiasi? Mengapa begitu pelit memberi sedikit hati, untuk menghargai penampilan orang lain? Mengapa begitu susah untuk sekadar memberi tepuk tangan?<br />
Tahukah, saat kita memberi tepuk tangan penghargaan pada seseorang, sesungguhnya kita tengah menciptakan satu lompatan besar di jiwa orang tersebut. Kita membuat orang itu merasa bahwa ia berharga. Punya sesuatu yang bisa membuat bangga. Dan mungkin, itu memotivasi dia untuk melakukan hal-hal yang lebih besar.<br />
Ah, ternyata tepuk tangan tidak seremeh kelihatannya. Begitu banyak makna di dalamnya. Jadi, jangalah segan melakukannya. Bertepuk tangan sajalah. Plok&#8230;plok&#8230;plok&#8230;.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=23&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/04/27/plokplokplok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wisran Hadi Bangga Dengan Pengarang Muda</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/wisran-hadi-bangga-dengan-pengarang-muda/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/wisran-hadi-bangga-dengan-pengarang-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 05:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telisik Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/wisran-hadi-bangga-dengan-pengarang-muda/</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman, kita patut merasa senang karena masih diizinkan berjumpa dengan puisi. Wah, kenapa ini, mungkin ada sebagin dari kita yang bertanya demikian. Apakah puisi sudah tidak mendapatkan tempat lagi? Atau tidak ada lagi penyair yang menuliskan sajak yang indah untuk kita baca? Jangan berpikir jauh dulu. Justru, banyak hal yang wajib kita bahas lebih dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=22&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman, kita patut merasa senang karena masih diizinkan berjumpa dengan puisi. Wah, kenapa ini, mungkin ada sebagin dari kita yang bertanya demikian. Apakah puisi sudah tidak mendapatkan tempat lagi? Atau tidak ada lagi penyair yang menuliskan sajak yang indah untuk kita baca? Jangan berpikir jauh dulu. Justru, banyak hal yang wajib kita bahas lebih dalam mengenai dunia puisi.<span id="more-22"></span><br />
Puisi tak akan berhenti mengalir. Ia seperti air dan darah yang mengalir di tubuh kita. Juga, bagaikan ide yang terus mendesak keluar, kemudian minta diwujudkan sebagai kata-kata nan indah. Lalu, apa yang menjadi persoalan kali ini?<br />
Minggu kemarin (17/2), P’Mails kembali bertemu sastrawan yang sangat terkenal namanya di dunia sastra Indonesia. Tidak seperti Papa (Rusli Marzuki Saria), beliau tak banyak bergelut dengan puisi. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan dunia drama, dunia yang sarat dengan peran dan kisah. Sastrawan ini bernama Wisran Hadi. Lalu apa yang menjadi istimewa dengan Bapak ini, hingga P’Mails merasa perlu mendiskusikan beliau di ruang puisi ini?<br />
Teman-teman mungkin pernah mengenal nama Shakespeare dalam lintas sastra dunia. Ia merupakan seorang sastrawan yang terkenal dengan karya yang berjudul Romeo dan Juliet. Shakespeare merupakan tokoh sastra yang sangat mempengaruhi perjalanan kepenulisan Wisran Hadi, bahkan ada yang menyebut beliau sebagai Shakespeare-nya Indonesia. Ada kemiripan Wisran Hadi dalam menulis karya dengan Shakespeare dalam, terutama dalam kata-katanya yang sangat puitis dan berirama.<br />
Kedatangan P’Malis ke rumah sastrawan ini berbicara seputar proses kreatif yang digelutinya di dunia sastra. Satu kalimat yang mengalir bijak adalah, “Bersyukurlah bisa menjadi pengarang, karena tak semua orang bisa mewujudkannya”. Mengapa demikian? Lebih lanjut, beliau memaparkan, siapa saja bisa menjadi penulis, tetapi tidak banyak yang berkesempatan menjadi pengarang, maka berbahagialah dengan kemampuan berimajinasi dan menghasilkan karya, ungkapnya.<br />
Magic! Kalimat yang diinapkan beliau cukup sederhana, tetapi di dalamnya, ada kebanggaan bagi kita yang telah menulis dan menghasilkan karya. Bahkan tersirat keluhuran yang tersembunyi yang disampaikan beliau menyangkut kegiatan menulis. Sekarang tak boleh lagi ada kata-kata malas bagi kita yang telah menaruh perhatian terhadap dunia sastra dan dunia kepenulisan. Menulislah, terus menulis hingga semua peristiwa yang kita tempuh menjadi kisah yang menghibur dan juga memberi makna bagi orang lain.<br />
Jangan berhenti menulis, sekiranya begitulah Wisran Hadi ingin memompa semangat penulis-penulis muda untuk berkarya, yaitu penulis yang mau menggali, menggali lagi dan menggali lagi rahasia menulis. Beberapa diantaranya, bermula sebagai cikal seorang pengarang terkenal, seperti nama-nama di bawah ini. Mereka telah mendesak imajinasi untuk keluar sebagai kata-kata dan mewujudkannya dalam bentuk puisi.<br />
Jika proses ini terus dilanjutkan, maka akan ada yang seperti Wisran Hadi, Shakespeare atau Papa nantinya. Bahkan, mungkin ada yang lebih hebat dari beliau. Maka yang perlu kita lakukan, marilah memandang sekitar. Banyak hal-hal istimewa yang wajib kita beritakan kepada dunia. Berimajinasilah dan menulis dengan kesadaran untuk berbagi makna dengan mereka yang tak tahu. Karena tak semua bisa menjadi pengarang. Maka mulailah seperti usaha yang telah dirintis sahabat-sahabat kita di bawah ini. (Ria Febrina)</p>
<p>Kutaklukan Dunia<br />
/Mega Wahyu Andira<br />
(SMAN 15 Padang)</p>
<p>Sejenak kurenungi<br />
Segala yang telah terjadi<br />
Menimpa diri ini<br />
Tapi seakan tak mungkin lagi</p>
<p>Jika ia berbisik ke telingaku<br />
Masih ada kepingan tersisa<br />
Masih banyak pula naluri bercinta<br />
Bercampur rayuan cintamu</p>
<p>Dunia<br />
Tetap ada di sini<br />
Aku tak gentar menghadapi<br />
Gejolak hidup ini</p>
<p>Tegar melangkah mencari arti<br />
Di antara badai selalu menggapai<br />
Waktu malam terus berubah</p>
<p>Hasratku tumbuh hanya satu<br />
Taklukkan dunia!<br />
Sang Surya<br />
/R. Farisan Muhammad<br />
(SMP IT Adzkia)</p>
<p>Sang surya<br />
Engkau penjelajah cahaya<br />
Menerangi dunia dengan cahaya<br />
Cahayamu sangat berkilau<br />
Bagaikan intan permata</p>
<p>Oh Tuhan<br />
Sungguh besar pemberian-Mu<br />
Engkau memberikan penerang dunia<br />
Engkau memberikan sang surya kepada kita<br />
Yang sinarnya begitu indah menyilaukan</p>
<p>Sang surya<br />
Bentukmu bulat bercahaya<br />
Mengeluarkan kobaran api<br />
Tanpa ada sedikit asap<br />
Sungguh ajaib kau sang surya<br />
Jikalau pagi engkau bersemi<br />
Jikalau malam engkau tiada<br />
Jikalau senja engkau tenggelam<br />
Sungguh mustahil bagi kita</p>
<p>Puisi Tengah Malam<br />
/Nuh Rafi<br />
(Pariaman)</p>
<p>Sang malam terus berjalan,<br />
seiring detak jantung<br />
Aku terjaga di antara<br />
gigitan nyamuk-nyamuk lapar, haus darah<br />
Saat gonggongan anjing memekak sunyi malam<br />
Saat detak jarum jam irama teratur, aku gelisah<br />
Rindu pagi, bilakan tiba.</p>
<p>Do’a Sebelum Tidur<br />
/Fathia Farhani<br />
(SD 12 Punggung Landing)</p>
<p>Baru kali ini aku sempat mengingatMu<br />
Maafkan aku, Tuhan<br />
Mungkin besok aku lupa lagi</p>
<p>Aku tak bisa berdo’a panjang panjang<br />
Hanya ku minta tolong damaikan dunia<br />
Selama aku tetap tidur dan terlupa</p>
<p>Sebelum tidur kuminta padaMu<br />
Apa saja yang baik<br />
Untukku</p>
<p>Keindahan Alam<br />
/Nurhayati<br />
(SMP 7 Pariaman Utara)</p>
<p>Tidur terlentang<br />
Menatap langit senja yang lembab<br />
Burung burung berkejaran<br />
Merendah dan meninggi di awan<br />
Melingkari awan hitam<br />
Jiwa yang tak sadar<br />
Hingga hari larut malam<br />
Cahaya bulan yang menghiasi angkasa<br />
Berhias bintang yang bertaburan<br />
Memeriahkan malam dengan kesejukan<br />
Angin dan perjalanan waktu<br />
Yang bergerak tak menentu<br />
Takkan bisa kulepas matiku<br />
Untuk memandangi keindahan alam</p>
<p>Elegi di Sebuah<br />
Persimpangan Jalan<br />
/Eirene Shinta V<br />
(SMAN 2 Pariaman)</p>
<p>Masih di tempat yang sama<br />
Kumenanti suatu masa<br />
Berharap akan ada sebuah asa<br />
Yang bisa kugenggam<br />
Kugapai</p>
<p>Masih di tempat yang sama<br />
Di sebuah persimpangan jalan<br />
Berharap akan ada sesuatu yang bijaksana<br />
Yang bisa kutelaah<br />
Ku raih</p>
<p>Masih di tempat yang sama<br />
Di sebuah persimpangan jalan<br />
Tak bernama<br />
Aku masih terbelenggu dengan<br />
Elegi yang sangat tak bijaksana<br />
Hidup Tersiksa<br />
/Agung Tri Poerbowo<br />
(SMAN 1 Pariaman)</p>
<p>Sekarang kami bagaikan ikan<br />
Yang tinggal di samudera luas yang berduri<br />
Setiap kami bergerak<br />
Kami tertusuk oleh benda tajam itu</p>
<p>Setelah kami dewasa<br />
Kami ditindas oleh para diktator<br />
Yang tidak memperhatikan perkembangan<br />
Dan kehidupan anak cucu di masa kelak</p>
<p>Kesakitan dan awan mendung<br />
Menyelimuti tempat tinggal kami<br />
Kami jenuh, bosan dan sedih<br />
Dan kami tidak ingin<br />
Tinggal lagi di samudera penuh duri<br />
Yang dirangkai seperti perangkap<br />
Oleh para nelayan<br />
Yang tidak bertanggung jawab</p>
<p>Jalan kehidupan<br />
/Wattawa Fany Yulia<br />
(MTsN Model Padang)</p>
<p>Hari-hari yang kujalani<br />
Terasa indah.<br />
Diiringi suara alam,<br />
Air sungai mengalir dengan tenangnya<br />
Mengiringi kehidupanku.</p>
<p>Kicauan burung terdengar merdu<br />
Mengiringi indahnya mentari pagi<br />
Seakan dunia takkan pernah<br />
Hilang dan tenggelam.</p>
<p>Hembusan angin meniup dedaunan<br />
Seakan berbisik kepadaku<br />
“jalani kehidupan ini apa adanya”</p>
<p>Itulah yang kudapat<br />
Saat melangkah masuk hutan ini<br />
Menikmati indahnya ciptaan ilahi.</p>
<p>Penyesalankah?<br />
/Raudhatul Fatiah<br />
(MTsN Koto Baru Solok)</p>
<p>Aku bukan seorang yang sempurna,<br />
Aku manusia biasa,<br />
Yang tak luput dari kekilafan dan dosa.</p>
<p>Tetapi aku terlalu sering berbuat keliru.<br />
Aku terlalu sering dengan keegoisanku.<br />
Aku terlalu sering dengan keduhakaanku.<br />
Aku terlalu sering dengan kesombonganku.</p>
<p>Bisakah aku membela diri atas kekeliruanku,<br />
dengan kalimat tak ada manusia yang sempurna?</p>
<p>Tapi mungkin tidak dengan kalimat,<br />
Yang tidak sempurna<br />
Selalu berbuat dengan tidak sempurnaâ€.</p>
<p>Penyesalankah ini?<br />
Apakah ini akhir dari kekeliruanku ?<br />
Apakah ini awal dari pandanganku,<br />
Bahwa manusia yang tidak sempurna<br />
bukan berarti manusia<br />
selalu berbuat dengan tidak sempurna?</p>
<p>Rasa Yang Tak akan Padam<br />
/Fendra Hidayat<br />
(SMAN Agam Cendikia)</p>
<p>Rasa dengan tetesan rahasianya<br />
Mengalir ke dalam lubuk yang terdalam<br />
Memenuhi di sela sela jiwa yang kosong<br />
Dan meluap dengan perlahan<br />
Menyusuri lubuk lain<br />
Sunyi sedang minta di akrabi<br />
Terasa rindu terus menumpuk di hati<br />
Dan ku yakin rindu ini akan padam<br />
Terbelenggu oleh duka<br />
Tapi aku masih juga,<br />
Membayangkan pancaran cahayamu<br />
Dan kuterbang dengan sayap indahku<br />
Mengelilingi pancaran cahayamu itu,<br />
Waktu terlanjur hilang<br />
Setiap kuberada di dekatmu<br />
Ada percakapan kita yang terapaku<br />
Di sisi jalan yang sama<br />
Cahayamu kutanam diam diam</p>
<p>Mungkinkah?<br />
Silvany Dewita<br />
(MTsN Model Padang)</p>
<p>Saat kutatap langit<br />
Kuteringat akan sesuatu<br />
Sesuatu yang aku rasakan<br />
Dan entah apalah itu</p>
<p>Rasa itu tak dapat kutebak<br />
Kadang terasa olehku suatu kemarahan<br />
yang menyesakan dada<br />
dan kadang terasa hal yang menentramkan hatiku dan pikiranku<br />
Sangat tak dapat kumengerti</p>
<p>Mungkinkah&#8230;<br />
Itu hukuman<br />
Karena suatu kebencian<br />
Yang sangat berlebihan</p>
<p>Mungkinkah&#8230;<br />
Itu suatu kegembiraan<br />
Tetapi ternyata tidak<br />
Kemungkinanku itu salah</p>
<p>Aku tak pernah tahu hal itu dengan pasti<br />
Hanya saja aku selalu memikirkan kemungkinannya<br />
Karena hal itu tak begitu jelas<br />
Dan tak begitu kupahami</p>
<p>Sebuah Perjalanan<br />
/Welni Gustiva sari<br />
(SMAN 3 Pariaman)</p>
<p>Di siang hari yang cerah<br />
Gerimis datang menghantui<br />
Mengacaukan suasana<br />
yang telah tersusun rapi<br />
Tanah yang semula kering<br />
Sekarang sudah mulai tergenangi<br />
Dedaunan berbisik lemah, tiada henti<br />
Ditemani ulat ulat yang resah, sedang bernyanyi<br />
Sedangkan air matiku yang patah<br />
Jatuh terkulai, di kakiku yang lelah<br />
Tapi<br />
Aku mesti harus melangkah<br />
Tanpa adanya bayangan<br />
Karena hidup ini terkadang lucu<br />
Yang penuh dengan teka teki<br />
Yang tak bisa di terka lewat imajinasi<br />
Tapi<br />
Ku harus terus melangkah<br />
Demi menemukan, apa yang selama ini ku cari<br />
Yakni kebahagiaan</p>
<p>Indahnya Ayat-Ayat-Mu<br />
/Revina Ilka Busri<br />
(SMAN 1 Lubuksikaping)</p>
<p>Masih menyelinap bayangan itu<br />
Bayangan yang sungguh kelabu<br />
Yang pernah hadir dalam hidupku</p>
<p>Aku terlunta-lunta menelusuri<br />
Indahnya pemandangan duniawi<br />
Aku terombang-ambing dihempas gelombang dunia<br />
Nan kian menderu<br />
Jiwa dan ragaku sepenuhnya<br />
Menjadi budak hawa nafsu<br />
Aku benar-benar telah keluar dari ajaran-Mu</p>
<p>Waktu itu,<br />
Kau masih memberiku rahmat-Mu<br />
Karunia nan sangat agung<br />
Yang membawaku dalam lembah keinsafan<br />
Hatiku nan keras bak besi tembaga<br />
Telah luluh lantak oleh ayat-ayat-Mu</p>
<p>Ya&#8230; Rabbi<br />
Betapa hebat firman-Mu<br />
Betapa indah lantunan ayat-ayat suci-Mu<br />
Hingga batinku tertunduk<br />
Dan ragaku bersujud di hadap-Mu<br />
Mohon ampun atas segala dosa<br />
Ya Allah ampuni aku</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=22&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/wisran-hadi-bangga-dengan-pengarang-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memikirkan Ulang Cerita Anak</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/memikirkan-ulang-cerita-anak/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/memikirkan-ulang-cerita-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 05:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/memikirkan-ulang-cerita-anak/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Maya Lestari Gf.   Setiap tahun, puluhan ribu buku anak diterbitkan di seluruh dunia. Dari jumlah itu, hanya sebagian kecil saja yang betul-betul menarik minat publik. Ambillah contoh Harry Potter karya J.K Rowling, Charlie and The Chocolate Factory karya Road Dahl, seri-seri Narnia karya C.S Lewis, atau Rahasia Hembusan Angin karya Ruth White. Novel-novel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=21&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: <span>Maya Lestari Gf.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap tahun, puluhan ribu buku anak diterbitkan di seluruh dunia. Dari jumlah itu, hanya sebagian kecil saja yang betul-betul menarik minat publik. Ambillah contoh <i>Harry Potter</i> karya J.K Rowling, <i>Charlie and The Chocolate Factory </i>karya Road Dahl, seri-seri <i>Narnia</i> karya C.S Lewis, atau Rahasia Hembusan Angin karya Ruth White. Novel-novel lainnya terbiarkan begitu saja di pojok rak. Bukan karena tidak bagus, tapi mungkin, karena tidak terlalu mengesankan.</span><span id="more-21"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bila mengacu pada syarat-syarat cerita anak yang umum berlaku, seperti, kalimat-kalimat cerita mesti pendek-pendek dan tidak ada tragedi di dalam cerita itu. Namun, beberapa novel yang saya sebut di atas malah melanggar kedua syarat itu. Harry Potter diceritakan dengan kalimat-kalimat panjang. Tragedi mewarnai hampir di seluruh serialnya. Mulai dari penyiksaan, pembunuhan, hingga gambaran tragis seekor ular yang tengah memakan manusia. Meski demikian, cerita ini begitu disukai, bukan hanya oleh anak-anak tapi juga orangtua. Seorang ibu bahkan pernah menulis surat pada J.K Rowling sang pengarang Harry Potter, ia tak pernah sabar menunggu malam tiba, untuk membacakan kisah-kisah Harry Potter sebagai pengantar tidur anaknya. Menurutnya, petualangan Harry Potter begitu memikat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Novel Rahasia Hembusan Angin, yang pernah mendapat penghargaan sebagai buku anak-anak terbaik dari pemerintah Inggris, tak luput dari tragedi. Di dalamnya juga ada cerita mengenai pembunuhan. Ayah salah satu tokoh cerita bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Sang ayah disebutkan tidak kuat menanggung rasa malu, akibat parahnya kerusakan wajahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bila melihat dua novel di atas, dan besarnya antusiasme publik terhadapnya, tak salah kiranya, jika kita mendefenisikan ulang, bagaimana semestinya sebuah cerita anak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya teringat, belasan tahun yang lalu, pernah membaca sebuah novel anak karya Arswendo Atmowiloto. Judulnya saya sudah lupa, tapi jalan ceritanya masih saya ingat dengan baik. Novel itu berkisah tentang sekelompok anak-anak yang begitu penasaran dengan seorang kakek berambut panjang yang tinggal di sebuah rumah nyaris tak terawat. Kakek itu sering dianggap gila dan suka menyakiti oleh tetangga-tetangga di sekitarnya. Ia bahkan digambarkan suka membunuhi anjing-anjing. Pernah suatu kali, pada bulan purnama, ia berkelahi dengan menggunakan pedang, melawan puluhan ekor anjing.<span>  </span>Deskripsi tentang si kakek ini tidak menyenangkan, dan terus terang saja menyeramkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada awalnya, sekelompok anak ini memang takut pada si kakek. Tapi, rasa penasaran, membawa mereka masuk ke dalam rumah si kakek, mengintip apa saja yang dilakukan si kakek. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai saling berinteraksi. Hingga akhirnya terbukalah apa yang selama ini menjadi rahasia si kakek. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Novel Arswendo tersebut memang tidak sepopuler Harry Potter, Rahasia Hembusan Angin ataupun Charlie and The Chocolate Factory, tapi ada kesamaan di sana. Sama-sama memiliki daya gugah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut saya, ada empat hal yang membuat kisah-kisah di atas begitu memikat pembacanya. <i>Pertama</i>, adanya ajakan untuk jujur pada diri sendiri. Menerima kekurangan dan kelebihan diri apa adanya. Ajakan ini tidak diungkapkan secara eksplisit, tapi implisit, lewat penggambaran tokoh-tokohnya. Harry Potter—di luar kapasitasnya selaku seorang penyihir—sama saja dengan anak-anak kebanyakan. Mendapat nilai jelek di sekolah, dihukum karena bandel, merasa takut, mudah khawatir, dan punya teman-teman yang setia. Sebagai tokoh utama, Harry Potter juga sering tampil mengecewakan dengan keegoisan sifatnya, dan seringnya ia mencari pembenaran atas perbuatannya. Namun, justru dengan itu ia tampak lebih manusiawi dan masuk akal. Dan, pembaca bisa menerima itu semua sebagai sisi lain seorang Harry Potter. Kejujuran bocah penyihir ini terhadap kekurangan dan kelebihan dirinya, membuat para pembaca anak-anak termotivasi pula untuk menerima diri mereka apa adanya. Bagaimanapun, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal yang sama juga tampak pada novel Rahasia Hembusan Angin. Si Tokoh utama digambarkan sebagai anak perempuan yang tertutup, pendiam <span> </span>serta mudah khawatir. Hal ini dikarenakan ia harus menanggung kenyataan, kematian tragis ayahnya. Bertahun lamanya ia menutup diri. Keadaan itu kemudian berubah ketika sepupunya datang. Sepupunya ini juga punya pengalaman tak kalah tragisnya. Ditinggal pergi ibu sendiri. Meski demikian, si sepupu terlihat tabah. Ini mendorong tokoh utama, untuk jujur pula pada kenyataan. Ia mulai belajar menerima keadaan apa adanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal menarik kedua adalah, novel-novel anak ini mengajarkan, siapa saja bisa menggapai impiannya, selama mereka mau berusaha. Tak ada orang yang ditakdirkan jadi pecundang di dunia ini. Tokoh Charlie dalam Charlie and The Chocolate Factory, digambarkan punya impian untuk berkunjung ke pabrik coklat paling terkenal di dunia. Untuk itu, ia berusaha mencari tiket emas yang diletakkan dalam batangan coklat. Meski harga coklat itu mahal dan Charlie berasal dari keluarga miskin, tapi kemauan keras membuat ia berhasil mendapatkan tiket itu. Hal ini mirip dengan yang diucapkan Paulo Coelho, ‘jika kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka seluruh dunia akan ikut membantumu mencapainya.’</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Serupa dengan Charlie, tokoh Neville Longbottom, sahabat Harry Potter yang dikenal sebagai pecundang, mampu bangkit dan menunjukkan kekuatannya. Ini dikarenakan ia percaya, kekuatan milik siapa saja yang berusaha. Hasil dari keyakinan itu tampil begitu menakjubkan dalam Harry Potter seri terakhir, The Deathly Hollow. Neville si pecundang, mampu memimpin sepasukan penyihir pelajar untuk melawan Voldemort, sang kekuatan hitam. Bahkan, Neville mampu menarik pedang Gryffindor dari dalam topi seleksi yang konon hanya bisa dilakukan mereka yang berhati bersih dan pemberani.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal menarik ketiga adalah, adanya persahabatan yang begitu kuat dalam setiap kisah. Seperti kita ketahui, manusia memiliki naluri kedirian dan berkelompok. Naluri kedirian berupa keinginan untuk dihargai dan diterima, sedang naluri berkelompok, adalah keinginan untuk menemukan orang-orang yang bisa menghargai dan menerima. Dalam Harry Potter, Charlie and The Chocolate Factory, dan Rahasia Hembusan Angin, pembaca melihat indahnya persahabatan yang ditunjukkan tokoh-tokohnya dan ini sangat mengesankan. Harry Potter dan teman-temannya rela mati untuk menyelamatkan yang lainnya. Charlie, begitu dicintai dan didukung oleh orangtuanya, yang tampil lebih mirip sahabat. Dukungan ini tampak ketika mereka memberika uang pada Charlie untuk membeli coklat impiannya, padahal mereka miskin. Sedang tokoh-tokoh dalam Rahasia Hembusan Angin, saling mendukung untuk menyembuhkan luka jiwa masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Yang keempat, adanya pengajaran untuk memahami tindakan orang lain. Pembaca diajarkan untuk tidak begitu saja memvonis orang lain hanya dari tindakannya. Pembaca diajarkan untuk melihat apa yang mendasari tindakan itu. Dalam Rahasia Hembusan Angin, pembaca melalui tokoh-tokoh utamanya, diajar untuk memahami tindakan orang lain, meskipun tindakan itu menyakitkan. Sebab, mungkin saja orang-orang melakukan tindakan bodoh, karena mereka tidak mampu lagi menanggung penderitaan. Si Tokoh utama diajarkan untuk memahami mengapa ayahnya bunuh diri. Dengan memahami muncul permaafan. Dari permaafan muncul kejujuran. Kejujuran membuat kita bisa menerima kekurangan diri sendiri dan menjalani hidup ini dengan apa adanya. Hal yang sama terlihat pada kisah Severus Snape, guru yang paling dibenci Harry Potter. Snape sering menampakkan permusuhan yang sangat pada Harry Potter. Di akhir hayat Snape, baru terungkap alasan tindakannya itu. Snape ingin melindungi Harry dari Voldemort, musuh utamanya. Terbukanya rahasia Snape, membuat Harry dan juga pembaca disadarkan, bahwa kita tak bisa melulu menilai orang lain hanya dari tindakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hal yang sama juga diungkapkan novel Arswendo Atmowiloto yang saya ceritakan di atas. Pembaca disadarkan untuk tidak begitu saja memvonis orang lain. Karena, kadang-kadang orang melakukan tindakan bodoh, bukan karena mereka memang bodoh, tapi karena mereka tak sempurna,<span>  </span>sama seperti kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut saya, semestinya beginilah sebuah cerita anak. Mengajarkan anak-anak pada pemahaman akan manusia, akan kekurangan dan kelemahan dirinya sendiri. Mengajak anak-anak untuk menjadi manusia jujur, tidak memakai topeng kepura-puraan. Memotivasi anak-anak untuk menjadi lebih baik dari hari ke harinya. Mengajarkan anak, untuk bijaksana dalam memandang segala sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah hal ini berat? Saya rasa tidak. Sebab novel-novel yang saya sebut di atas mampu menyampaikan pesan-pesan kebijaksanaan ini dengan baik dan tanpa menggurui. Di luar adegan-adegan tragis yang ada di dalamnya, saya bisa melihat novel-novel tersebut memenuhi syarat sebagai sebuah cerita anak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Padang, 10 Februari 2008, Komunitas Hijaumuda</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=21&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/28/memikirkan-ulang-cerita-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengulas Essai dan Cerpen</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya-2/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 11:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diskusi Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya-2/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Elsya Crownia* &#160; &#160; &#160; &#160; Sore itu, meskipun sedikit rinai diiringi senandung hujan membahana di cakrawala. Seperti biasa program diskusi mingguan akan tetap berjalan, dengan keterbatasan ruangan dihiasi suara ceria yang dapat menghidupkan suasana jiwa yang kala itu terasa letih dan lelah menyeruak seperti tak terengkuh oleh duka. Apalagi menunggu kedatangan sang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=20&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Elsya Crownia*</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">Sore itu, meskipun sedikit rinai diiringi senandung hujan membahana di cakrawala. Seperti biasa program diskusi mingguan akan tetap berjalan, dengan keterbatasan ruangan dihiasi suara ceria yang dapat menghidupkan suasana jiwa yang kala itu terasa letih dan lelah menyeruak seperti tak terengkuh oleh duka.<span id="more-20"></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal"><span> </span>Apalagi menunggu kedatangan sang pengumpul dan pengiring diskusi. Memang perut terasa kenyang setelah diisi sebungkus nasi. Nah dalam diskusi dalam rangka mengulas essai dari Dewi , Nurfitria ( <i>Nippon Sensei</i>)<span>  </span>menjelaskan bahwa tema yang diangkat menarik. Sedangkan penulis sendiri memaparkan bahwa tema yang diangkat cukup menarik, meskipun hanya sepenggal dari pengamatan sang penulis tetapi di dalam tulisan tersebut tidak ada opini yang dijabarkannya sendiri. Om Kw menambahkan bahwa ada beberapa kriteria dalam tulisan tersebut antara lain (1) berantakan, (2) sukses, dan (3) motivasi yang menekankan antara membagi antara kuliah dengan kerja. Papa ( Rusli Marzuki Saria)<span>  </span>pun ikut menambahkan referensi dengan Muhammad Yamin dikala mengeyam bangku kuliah dengan bekerja menyetrika dan mencuci baju.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">Dalam diskusi membahas karya <span> </span>Nurfitria, Ria Febrina<span>  </span>menyatakan bahwa dalam tulisan tersebut tidak ditemukan berbagai perbedaan namun Om Kw menambahkan bahwa anak-anak<span>  </span>tak banyak berpikir dalam membaca cerita tetapi mereka hanya menikmati bacaan yang dibacakan oleh orang tuanya, hanya dengan aturan SPOK.<span>  </span>Biasanya dalam cerita anak terdiri dari 1500-2500 kata. Bahasa yang digunakan pun sederhana jadi disarankan agar penulis menemukan karakter anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal"><span> </span>Selanjutnya, kami mengulas cerpen Kak Maya yang tidak terlihat<span>  </span>unsur budaya Minangkabau misalnya harta anak yatim<span>  </span>pada zaman dahulu tidak dapat diganggu gugat tetapi akan diserahkan kembali saat mereka telah beranjak dewasa. Namun, di masa sekarang<span>   </span>Papa menyatakan bahwa masyarakat sekarang ini banyak yang menyetir harta anak yatim<span>  </span>atau dalam pencaplokan<span>  </span>warisan di Minangkabau bahwa harta<span>  </span><i>pusako </i>yang menguasai mamak dalam kaum. Sedangakan, warisan yang di <i>jawek</i> oleh kemenakan <span> </span>berupa gelar, tetapi harta pusako <span> </span>akan menjadi milik <i>Bundo Kanduang</i> . Om Kw menyatakan bahwa konflik yang terjadi di tengah masyarakat Minangkabau<span>  </span>kalau dilihat dari sisi psikologi dan sosiologi masyarakarat, harta yang belum dibagi merupakan harta pusaka. Tidak masuk akal memang, bila mamak membunuh kemenakan demi harta warisan. Papa menambahkan bahwa dalam Islam harta anak yatim tidak boleh diganggu gugat<span>  </span>jadi sebaiknya Kak Maya menceritakan cerita lama dengan gaya komtemporer, dari segi kelemahan gaya penceritaan<span>  </span>sebenarnya tidak perlu dibubuhkan surat. Karena dengan adanya surat maka akan terlihat adanya kelemahan dalam cerita tersebut. Jadi, sebaiknya lansung menghadirkan latar belakang permasalahan yang terjadi dalam cerpen. Logika tentang budaya masyarakat Minangkabau tidak ditemukan. Bisa dicontohkan dalam Surau dan bagaimanakah<span>  </span>situasi masyarakat Minangkabau yang telah kehilangan mamak dalam kaum sehingga, status keluarga Minangkabau berubah menjadi <i>nuclear family</i> ( keluarga inti), sehingga peran mamak tergantikan oleh peran Ayah dan Ibu. Selain itu, ada peleburan bahasa Minangkabau yang berubah menjadi bahasa <i>lo</i> dan <i>gue (</i> ala Jakarta), kenyataannya itulah yang tengah terjadi dalam masyarakat karena mereka tidak bangga dengan status Minangkabau seperti para perantau yang bernostalgia dengan mendengar lagu Minangkabau itupun hanyalah berupa kerinduan semata setelah itu mereka akan melupakannya.Kesimpulannya, perlu diadakan pengajian ulang tentang budaya Minangkabau oleh Kak Maya.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal"><span> </span>Selanjutnya, kami membahas cerpen Marni karya Ria Febrina,<span>  </span>kelihatannya bahasa dan penuturan bahasa cukup menarik dengan menghadirkan konflik psikologi pengarang. Namun, disisi lain si pengarang memang dihilangkan apabila membaca karyanya. Selanjutnya, hasil dan argumentasi itu sendiri diserahkan kepada si pembaca. Sukses tidaknya sebuah cerpen itu tergantung pada si pembaca. Dalam pengisahan memang tidak dijelaskan urutan peristiwa yang dialami oleh sipenulis, penulis sendiri memposisikan dirinya hanya sebagai narator dalam narasi. Mungkin kisah dia kala bertemu dengan ibunya atau reaksi sang ibu ketika menerima dia kembali.<span>  </span>Nah, bagaimanakah sang suami pada mulanya dilarang untuk bekerja disaat konfliknya sang suami dipecat dan meminta sang istri<span>  </span>untuk kembali berkarir.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">Cerita Marni merupakan refleksi kehidupan anak muda yang tengah jatuh cinta sehingga, menganggap bahwa laki-laki pilihannya adalah segala-segalanya, ia idaman setiap wanita dan mungkin<span>  </span>sang wanita pun demikian hingga pad akhirnya timbul rasa penyesalan yang menyelisik kalbu dan melelahkan jiwa sehingga, tempat mengadu hanya pada sang muda.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">Pesan dalam cerita tersebut cukup bagus bahwa tidak ada tempat yang bakal kau singgahi, karena di sanalah engkau akan menemukan kebahagiaan yaitu ibu. Ibu ibarat surga yang selalu mengalir di sungai kecil menyejukkan jiwa yang terlalu terjun kelaut hitam.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal"><span> </span>Disamping, tidak ada yang lebih berarti di dalam persahabatan dan cinta hanyalah sepenggal nafsu bukan kesejatian karena seharusnya cinta di ramu oleh-Nya. Dengan mencintai-Nya maka cinta akan bercahaya di selinsing fajar Timur.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">***<i>Padang</i><i>, HijauMuda 28 Januari 2008</i></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;line-height:150%;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><span>                                                                                </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=20&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Anjing Yang Telah Menemukan Tuannya</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/cerita-terjemahan/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/cerita-terjemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 11:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/cerita-terjemahan/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita: Elsya Crownia Pada zaman dahulu, hiduplah seekor anjing. Anjing ini hidup berkelana untuk mencari tuannya, karena dia merasakan bahwa hidup ini begitu kejam dan keras. Pertama kali ia pergi ke bank dengan cara menyebarangi sungai, namun tiba-tiba dia bertemu dengan serigala “ Hai, serigala !”sapanya “ Sebenarnya, apa maumu? “ tanya sang serigala “ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=19&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:center;text-indent:9.05pt;line-height:150%;" align="center"><b><span style="color:black;">Cerita: Elsya Crownia </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Pada zaman dahulu, hiduplah seekor anjing. Anjing ini hidup berkelana untuk mencari tuannya, karena dia merasakan bahwa hidup ini begitu kejam dan keras. Pertama kali ia pergi ke bank dengan cara menyebarangi sungai, namun tiba-tiba dia bertemu dengan serigala</span><span id="more-19"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">“ Hai, serigala !”sapanya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">“ Sebenarnya, apa maumu? “ tanya sang serigala </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">“ Saya hanya sekedar mencari tuan, tolonglah saya.” Katanya si anjing sambil merajuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Serigala pun menyetujuinya, dia pun ikut menolong si anjing mencari tuan, bersama-sama. Memang, mereka pergi untuk waktu yang sangat lama, tetapi tiba-tiba serigala menghentikan langkahnya <span> </span>dan ia pun berkata </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">“ berlarilah! Ada seekor<span>  </span>panda disini.”. Anjing pun mengerti akan perkataannya si serigala yang telah meninggalkannya. Ia pun mendatangi<span>  </span>sang panda<span>  </span>dan menanyakan, apakah ia bersedia untuk menjadi tuannya. Si Panda pun menyetujuinya<span>  </span>dan mereka pun pergi bersama. Tetapi, akhirnya sang<span>  </span>Panda pun menghentikan langkahnya dan<span>  </span>ia pun berkata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">“ Berhenti! Berlarilah!<span>  </span>Ada seejor singa yang datang, ia akan segera memakan kita”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Anjing mengerti akan perkataan si panda, panda kelihatannya tidak begitu kuat dan tidak terlalu berani untuk menghadapinya dan ia pun pergi meninggalkannya. Anjing<span>  </span>pun pergi bersama singa. Tetapi, di saat singa melihat<span>  </span>seorang manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Singa pun berkata “ Oh, ya, ada manusia rupanya! Ia akan membunuh kita, ayo pergi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Anjing mengerti, namun tidak ada seorang pun yang<span>  </span>terkuat didunia ini, selain manusia dan ia meminta pada manusia itu untuk memeliharanya.<span>  </span>Manusia pun mengambil dan memeliharanya. Dan setuju untuk merawatnya, semenjak itulah anjing<span>  </span>mulai melayani manusia<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><i><span style="color:black;">***Penulis adalah mahasiswi<span>  </span>Sastra Inggris, bergiat di Komunitas HijauMuda</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.05pt;text-align:justify;text-indent:9.05pt;line-height:150%;"><span style="color:black;"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=19&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/cerita-terjemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara Dengan Rusli Marzuki Saria</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 11:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bincang-bincang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Oleh : Elsya Crownia* Pada tanggal 20 Januari 2008, merupakan tugas pertama kami mengadakan wawancara dengan seorang penyair lokal yang berkaliber nasional dan Internasional. Dalam hasil wawancara tersebut beliau menguraikan ketika beliau menjadi salah seorang redaktur di Koran Haluan Padang, beliaua banyak menerima naskah-naskah baru. Pertama, di saat beliau membaca naskah tersebut yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=18&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:28.05pt;line-height:150%;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:28.05pt;line-height:150%;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:28.05pt;line-height:150%;" align="center">Oleh : Elsya Crownia*</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Pada tanggal 20 Januari 2008, merupakan tugas pertama kami mengadakan wawancara dengan seorang penyair lokal yang berkaliber nasional dan Internasional. Dalam hasil wawancara tersebut beliau menguraikan ketika beliau menjadi salah seorang redaktur di <i>Koran Haluan Padang</i>, beliaua banyak<span>  </span>menerima naskah-naskah baru.<span id="more-18"></span> Pertama, di saat beliau membaca<span>  </span>naskah tersebut yang mesti dilihat adalah adakah isi edukatif misalnya<span>  </span>H.B Jassin pernah<span>  </span>menjadi redaktur Majalah Kisah dan menerima tulisan-tulisan baru, beliau memuat salah satu dari tulisan tersebut<span>  </span>dengan mengambil sisi edukatif dan terus memotivasi mereka dalam berkarya, agar nantinya para penulis baru menemukan inovasi baru.<span>  </span>Selain itu beliau juga mengakumulasi lebih pada tahun 50-an para pengarang Sum-Bar<span>  </span>yaitu ; angkatan Kisah di Indonesia sangat banyak di antaranya A.A Navis, Sadri Sidiq, dan N.H Dhini. Beliau juga memotivasi<span>  </span>para penulis muda dengan sebuah wejangan “<span>  </span><i>Disuksi secara terus menerus, membutuhkan intensitas<span>  </span>belajar sangat dibutuhkan, tidak hanya matematika</i> <i>semata</i>”. Penulis kreatif seharusnya mampu membuat bahasa seperti<span>  </span>Khairil Anwar yang pernah beliau baca, dalam penciptaan bahasa bagus jadi si pembaca<span>  </span>membaca tulisan tersebut terasa asing. Posisi seorang penyair<span>  </span>dalam mentranslet bahasa<span>  </span>berbeda dengan para ilmiawan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Misalnya<i>;<span>  </span>Aku cemas dengan kecemasan</i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><i><span>                  </span>Don’t forget my love</i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Terlihat amat jauh berbeda<span>  </span>sekali antara karya fiksi dengan fakta. Biasanya ini<span>  </span>akan berhubungan dengan<span>  </span>para wartawan dan penyair fiksi. Bahasa budaya pun membutuhkan imajinasi timpal beliau. Ragam bahasa prosa<span>  </span>dalam koran Tempo merupakan bahasa yang dibalut fakta namun, penuturannya halus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><span>                    </span><i>Bulan Sedang beringsut-ingsut</i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><i><span>                    </span>Meninggalkan puncak bukit</i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Jadi serius maupun tidak<span>  </span>kita dalam menulis, tentu akan dipertanyakan. Meminjam kata dari Ernest Hemingway, bahwa menjadi seorang penulis membutuhkan 50% bakat dan 50%<span>  </span>hasil kerja keras.Seperti anak kecil<span>  </span>yang berbakat menulis dari kecil dan di saat dewasa dia menyukai matematika, atau melukis dan membuat syair membutuhkan intuisi yang kadang kala terlepas dari pikiran rasional, wajar karena dalam bahasa penyair lebih imajiner. Nah, kalau bergelut<span>  </span>dalam dunia kesenian akan bergelut pula dengan pikiran rasional. Beliaun pun menuturkan bahwa hidup ini penuh misteri, adakalanya<span>  </span>seorang lulusan pertanian mampu menjadi seorang penyair, wajar karena kita hanya menjalani kehidupan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Dalam nasehat beliau pun menuturkan, bahwa mencari inspirasi untuk membuat tulisana dapat dilakukan melalui diskusi, berkreativifitas. Nah, di dalam diskusi tersebut tentu kita akan menemukan begitu banyak pengalaman. Di saat, penulis mengalami masa panceklik dalam berkarya bisa diibaratkan “ seorang penulis berada disuatu tempat yang sunyi ditengah keramaian, baik sunyi rohani maupun psikis, dapat dilakukan dengan membaca karya-karya orang lain untuk menambah inspirasi atau dengan sholat “</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Di dalam kesunyian mencekam tersebut, kita akan dapat <span> </span>dengan cara intropeksi diri. Tentu kita akan bertanya-tanya pada diri kita sendiri. Memang, resiko menjadi pengarang, tidak sama dengan artis. Buktinya, beliau menyatakan bahwa dengan menjadi seorang penulis, kita bisa hidup untuk membiayai anak-anak sekolah bahkan menganjal perut pun bisa. Karena<span>  </span>di masa seperti sekarang honor seorang penulis sangat memuaskan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><span> </span>Beliau pun menuturkan, bahwa puisi beliau bersifat Impressionis artinya menangkap kesan dari puisi dengan menyalin alam (mimesis). Puisi seperti ini mempunyai banyak anakn bukan bait. Jadi, ini merupakan ciri kahas<span>  </span>tersendiri meskipun sekilas terlihat jorok. Seperti beberapa puisi beliau memaparkan tentang kisah Edward Douwes Dekker, yang menjadi Bupati di Sumateranese ( Sumatera Tengah saat itu), saat itu orang Belanda sangat menyukainya. Yang paling mengesankan menurut beliau adalah ketika Khairil Anwar merangkai kata pada sajaknya.<span>  </span>Beliau pun menuturkan ketika beliau merasa jenuh, mengobati rasa jenuh hanya dengan membaca dan sholat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Beliau, juga memamaparkan tentang metode dalam penulisan puisi. Memang kelihatannya terlalu berbelit-belit, seorang pengarang besar lahir karena sering menulis <i>diary</i> dan seorang pengarang fiksi<span>  </span>harus mampu menjinakkan kata-kata dengan cara menulis kata pacar, apa saja diungkapkan tetapi juga membutuhkan imajinasi yang tinggi untuk membangkitkan emosi maka, kata-kata itu pun disaring. Seorang penulis maupun penyair harus mencintai kata-kata<span>  </span>seperti kita sedang jatuh cinta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Pada tahun 60-an, beliau menulis sajak <i>Parewa</i> hanya dengan menggunakan kertas rokok. Kala itu beliau akan pergi berangkat ke Amerika tepat saat itu terjadi pemberontakan Malari. Jadi, dalam sajak tersebut juga terdapat pemberontakan akan ketidak jujuran, dan kesewenangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Prosa, puisi, fiksi ( rekaan) meskipun memasukkan unsur-unsur sejarah didalamnya akan tetap menjadi karya fiksi. Dalam salah satu puisi beliau berjudul “ <i>Putri Bunga Kara</i> “ refleksi dari pemberontakan seorang perempuan yang dipoligami dengan cara “ diam”, memang pada saat itu masyarakat Minangkabau khususnya, perempuan merasa tertekan batinnya, terenyuh jiwanya. Saat itu beliau mencoba untuk memahami seorang perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><b>Tentang Puisi</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Ada kalanya puisi memiliki karakter karena pengaruh bacaan, misalnya belajar duduk dengan Alif Ba Ta dalam sajak Aritua. Memang, beliau dalam menulis puisi berusaha untuk membebaskan diri dan tidak pernah menggunakan rima. Demikian pula yang ditemukan pada penyair-penyair muda sekarang akan terbaca keberadaan simbol dan metafora.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><span> </span>Penyair Amerika pun demikian, setiap penyair punya kelebihan<span>  </span>dan juga mempunyai tangung jawab moral terhadap pembacanya.<span>  </span>Disampin membutuhkan petualangan pikiran , rohani dan jasmani. Maka, penyair dapat belajar<span>  </span>dan tidak bisa dicapai seolah mampu untuk didekati.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><b>Pesan Untuk Para Penulis Muda</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Menjadi seorang pengarang pada masa sekarang dapat hidup tanpa memahami filsafat. Timbulnya karya-karya besar bukan karena keterikatannya tetapi dibebaskan oleh kreatifitas. <span> </span>Lahirnya banyak komunitas<span>  </span>tidak hanya sekedar <span> </span>trend semata,<span>  </span>tetapi kita benar-benar serius untuk menjalaninya terutama dalam berkarya. Kalau ditilik, zaman sekarang orang tidak berpikir tentang selera masyarakat misalnya N.H Dhini menulis berdasarkan pengalamannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Latar belakang seorang pengarang<span>  </span>sepert J. K Rowling<span>  </span>yang terkenal dengan Harry Potter yang memberikan keluarga bagi Harry yang yatim piatu. Hal tersebut merupakan refleksi<span>  </span>dari rasa sepi Jeane dalam membesarkan<span>  </span>putrinya sendirian tanpa suami atau Uncle Tom Scebing yang mempengaruhi<span>  </span>keadaan atau perang saudara antara Amerika Utara dan Selatan. Demikian pula Oprah yang cendrung pro pada masyarakat Amerika berkulit hitam, orang Afrika yang miskin. Hal tersebut melatar belakangi karena ayahnya seorang serdadu Amerika yang tinggal di Vietnam. Jadi, latar belakang seseorang<span>  </span>sangat mempengaruhi karyanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">Menjadi seorang pengarang yang menulis berdasarkan apa yang ia pahami demikain pula novelis tidak cukup<span>  </span>dengan dirinya tetapi dia juga akan melakukan studi pustaka, mengkaji keadaan masyarakat atau dengan menyadur dari pengalaman orang lain. Hal ini akan mempengaruhi intensitas, <i>mood</i>, dan pengalaman bacaan.Metafora tak hanya ditemukan dalam puisi semata, Al Qur’an pun memiliki metafora.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;line-height:150%;"><i>***HijauMuda, 20 Januari 2008</i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=18&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/16/diskusi-karya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gosip Candu, Candu Bergosip</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/10/budaya/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/10/budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 05:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/10/budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Elsya Crownia* Masyarakat Indonesia saat ini gandrung menonton acara gosip di Televisi. Hampir setiap hari ada tayangan gosip dari berbagai televisi swasta. Hal ini menyebabkan gosip dijadikan sebuah hobi. Meski banyak orang yang tidak menyukai kegiatan ngomongin orang, tidak dapat dipungkiri kegiatan ini telah menjadi ritual, khususnya bagi kaum wanita. Memang, kita tidak dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=16&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:27pt;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Elsya Crownia*</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Masyarakat Indonesia saat ini gandrung menonton<span>  </span>acara gosip di Televisi. Hampir setiap hari ada tayangan gosip dari berbagai televisi swasta. Hal ini menyebabkan gosip dijadikan sebuah hobi. Meski banyak orang yang tidak menyukai kegiatan ngomongin orang, tidak dapat dipungkiri kegiatan ini telah menjadi ritual, khususnya bagi kaum wanita.</span><span id="more-16"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Memang, kita tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa Televisi swasta banyak menyajikan acara gosing antara lain; <i>Hot Shot</i> ( SCTV), <i>Insert</i> ( Trans TV), <i>I-gosip</i> ( Trans 7),<i> Kiss</i> ( Indosiar),<span>  </span><i>Silet </i>(RCTI), dan<span>  </span><i>Go Show</i> ( TPI). Rata-rata masyarakat kita ada yang mengandrungi acara Insert dan Silet. Kenapa lebih gandrung dengan acara tersebut?. Di lihat dari jam tayangnya, kedua acara tersebut berdurasi satu jam dan lebih jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Menurut Psikolog Elly Risman, pada dasarnya memang sudah ada pada diri manusia. Bahwa<span>  </span>manusia memiliki rasa keingin tahuan terhadap orang lain. Jika dilihat dari segi sosial, jika manusia tidak mampu menghadapi situasi yang tidak jelas. Maka, mereka akan melepaskan masalah pada orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Rumor berawal dari prasangka atau keingin tahuan terhadap satu urusan . Jika kita penasaran, maka kita akan mengelindingnya pada urusan lain. Misalnya, apabila kita penasaran terhadap rumah tangga si A, maka kita akan mengelindingnya ke si B. Kalau terus dibahas, maka masalahnya akan semakin besar. Apalagi jika telah melibatkan media.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span><span> </span>Tayangan gosip dianggap sebagai bergunjing, manusia hobi menonton acara gosip karena ada rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain. Makanya dalam Islam timbul rasa was was, karenas hal ini menyebabkan orang cendrung suka bergosip. Ditambah lagi, manusia selalu digoda oleh setan, baik setan yang wujudnya jin atau manusia. Hal ini dijelaskan dengan gamblang dalam Al-qur’an surat An-Naas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Sekarang acara gosip semakin parah, apalagi manusia memiliki kecendrungan untuk ingin tahu terhadap urusan orang lain. Nah, inilah yang dijadikan komoditas, dilihat dari segmennya, diolah sedemikian rupa sehingga, terlihat menarik, kemudian ditayangkan oleh televisi. Sudah si pembuat acara gosip tidak memiliki dasar moral dan agama. Apalagi, pemahaman agama yang kurang di masyarakat sehingga, masyarakat kita lebih menyukai acara gosip dibandingkan dengan acara yang sarat dengan informasi aktual. Kalau dihadapkanm pada kasus yang berat misalnya banjir, meningkatnya harga kebutuhan pokok, atau naiknya anggaran pendidikan. Namun, kelihatan masyarakat kita hanya bersikap tidak mau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Apakah tayangan gosip itu menguntungkan bagi masyarakat?. Tidak sama sekali, apalagi yang diuntungkan adalah stasiun televisi yang membuat acara gosip. Tetapi, tayangan gosip mempunyai efek samping bagi masyarakat. Antara lain, tayangan gosip menyebabkan orang lebih suka bergunjing, cendrung meniru style para selebritis seperti model pakaian, gaya berpacaran, dan model rambut.<span>  </span>Seperti yang kita ketahui, tayangan iklan dari acara tersebut menyebabkan stasiun televisi meraup keuntungan. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa gosip ibarat memakan bangkai saudara kita. Selain itu, tidak ada satu pun agama yang menganjurkan kita untuk saling bergunjing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><b><span>Rasa Ingin Tahu</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Bergunjing bermula dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu adalah anugerah yang Maha Kuasa. Dari rasa ingin tahu tersebut, kita dipupuk <span> </span>dengan baik kearah positif. Rasa ingin tahu tersebutlah yang menyebabkan lahirnya temuan-temuan baru. Semua penemuan tersebut menyebabkan manusia dianugerahi rasa ingin tahu ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><i><span>Nah</span></i><span>, kalau salah, ujung-ujungnya terjadi seperti ini. Bergunjing, dijadikan sebagai komoditi untuk mencari uang. Apa yang terjadi di Indonesia ini lebih parah, dibandingkan dengan negara lain. Jadi, rasa ingin tahu tidak terlalu dibesar-besarkan, dibandingkan yang terjadi di Indonesia<span>  </span>seperti gosip, semakin lama malah semakin dibesar-besarkan.Wanita, dituding suka bergosip karena pada wanita otak bagian kanan masih aktif sehingga, didalam situ ada urusan<span>  </span>yang berhubungan dengan sesama manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><b><span>Akibat Suka Bergosip</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Akibat dari bergosip banyak sekali, terutama bagi sumber gosip itu sendiri. Pertama,<span>  </span>mereka tidak sadar akan dampak bag dirinya sendiri, terutama bagi si penggosip akan berdampak terhadap pasangannya sendiri ( menggumbar aib pasangannya sendiri). Semua itu menyebabkan, orang ingin tahu terhadap keburukannya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Kedua, ini dijadikan pembelajaran nilai yang buruk<span>  </span>bagi masyarakat. Apa yang kita petik, misalnya ada artis yang mempunyai anak diluar nikah, atau artis terlibat perselingkuhan. Ini merupakan sosialisasi nilai bahwa penzinahan dihalalkan dalam masyarakat. Padahal, zinah adalah dosa besar dalam agama kita. Apa kita mau hal itu terjadi pada generasi muda kita?. Tidakkan, bahkan sekarang MBA ( <i>married by</i> <i>accident</i>), tidak lagi dianggap tabu dalam masyarakat kita. Bahkan, dianggap hal biasa. Hal ini pula menyebabklan kerengangan norma dan nilai religi dalam masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Mengapa generasi kita tak punya rasa malu?. Tentu, hal ini disebabkan acara gosip menayangkan secara gamblang yang terjadi dalam kehidupan selebritis. Misalnya, foto-foto vulgar yang dianggap tabu, dengan gamblangnya selebritis klita menganggap itu bukan kesalahan dia, atau dengan kata lain ada orang yang usillah, atau seni. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Ketiga, gosip berdampak terhadap anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD sudah mulai menggunjingkan teman-temannya, anak-anak SD sekarang sudah mulai pintar pacaran, dan lain sebagainya. Jelas saja, hal ini menyebabkan pergeseran moral bangsa. Belum lagi, adanya pergeseran tata nilai yang sangat merusak moral para generasi penerus. Pergeseran tata nilai ini disebabkan oleh penayangan klehidupan para selebritis yang negatif ditelevisi. Jika dibiarkan terus menerus, bisa jadi perilaku negatif dianggap sebagai hal biasa bukan tabu lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Keempat, gosip menyebabkan masyarakat kita malas untuk bekerja dengan kata lain <i>no</i> <i>action talk only</i> (NATO). Dan kelima, gosip dapat dengan mudah menyulut permusuhan baik itu antara artis dengan wartawan atau si artis dengan orang terdekat mereka ( seperti orang tua, kakak, manajer atau kru ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><b><span>Cara terhindar dari tayangan gosip </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span>Apabila kita menemukan teman yang sedang bergosip, lebih baik tinggalkan saja. Daripada ikut berdosa dan memakan bangkai sendiri, lebih baik pergi. Cara lain ialah dengan menggikuti kegiatan positif, sehingga dapat menambah wawasan dan disamping itu menmgikuti kegiatan yang dapat menambah keahlian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;"><i><span>***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam Komunitas HijauMuda</span></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=16&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/10/budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berhala dan Idola</title>
		<link>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/03/15/</link>
		<comments>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/03/15/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 10:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hijaumuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/03/15/</guid>
		<description><![CDATA[Menurut teori moral Kohlberg, masa muda digolongkan ke dalam tahap konvensioanl. Pada masa ini, biasanya akan mereka akan menyadari bahwa ada dunia lain di luar dirinya. Selanjutnya, kesadaran akan adanya orang lain dan lingkungan lain akan lebih luas di luar dirinya itu maka dibutuhkan penyesuaian diri. Biasanya, pada masa konvensional ini, secara psikologis, seorang muda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=15&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p CLASS="MsoNormal">Menurut teori moral Kohlberg, masa muda digolongkan ke   dalam tahap konvensioanl. Pada masa ini, biasanya akan mereka akan menyadari   bahwa ada dunia lain di luar dirinya. Selanjutnya, kesadaran akan adanya   orang lain dan lingkungan lain akan lebih luas di luar dirinya itu maka   dibutuhkan penyesuaian diri.<span id="more-15"></span></p>
<table WIDTH="100%" CELLSPACING="0" CELLPADDING="0" BORDER="0" STYLE="100%" CLASS="MsoNormalTable">
<tr>
<td CLASS="" STYLE="padding-top: 0; padding-right: 0; padding-bottom: 0; padding-left: 0"></td>
</tr>
</table>
<div ALIGN="center">
<table WIDTH="90%" CELLSPACING="0" CELLPADDING="0" BORDER="0" STYLE="90%" CLASS="MsoNormalTable">
<tr>
<td CLASS="" STYLE="padding-top: 0.75pt; padding-right: 0.75pt; padding-bottom: 0.75pt; padding-left: 0.75pt"></td>
</tr>
</table>
</div>
<p CLASS="MsoNormal"><img WIDTH="673" HEIGHT="1" SRC="///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" />Biasanya, pada masa konvensional ini, secara psikologis, seorang muda akan menjadi pribadi yang konfromis, maka, dibutuhkan sosok seorang idola.Sedangkan, menuru teori identitas Erikson, masa muda merupakan masa kekaburan identitas atau kehilangan identitas. Biasanya, pada masa ini anak muda masih mencari pegangan. Maka ia membutuhkan sosok untuk menyemangatinya.</p>
<p>Secara etimologis, idola berasal dari kata benda bahasa Latin, Idolium yang artinya orang halus, bayangan, hantu, arca berhala, dan berhala. Sedangkan menurut kamus Webster, Oxfort istilah idola didefinisikan sebagai penyembah Tuhan atau menghubungkan sesuatu berdasarkan imej ketuhanan.Isilah diva yang dikaitkan pula dengan Tuhan atau dewa agama Hindu dan Budha. Pada masa sekarang ini istilah idola sering dikaitkan dengan para diva, musisi, grup band, malahan pemimpin sering mengaitkan idola dengan Nabi Muhammad SAW.Naluri remaja sering diwarnai dengan sikap ingin meniru, mencontoh, dan mengagumi seseorang.Remaja menjadi belajar dengan cara meniru dan menontoh pengalaman orang lain, karena bentuk peniruan yang matang menyebabkan mereka tetap meneruskan tradisi tersebut.</p>
<p>Dalam tradisi Islam mecontoh diperbolehkan apabila yang dijadikan contoh tersebut dapat membawa manfaat bagi diri kita. Disamping itu menjadikan contoh dan meneladani sifat yang memang pantas untuk diteladani.Nabi Muhammad merupakan sosok yang patut untuk dicontoh dan diteladani. Pada dirinya terdapat watak dan kepribadian Rasulullah tidak sampai kepada tahap pemujaan atau menyamakan diri dengan Tuhan atau menimbulkan rasa penyembahan yang sangat luar biasa, Nabi hanyalah manusia biasa yang sama seperti kita dan Allah memberikannya kelebihan supaya ia menjadi sumber ikutan untuk diteladani terhadap zamannya dan juga manusia kemudian.</p>
<p>Sesungguhnya konsep idola berlawanan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasullulah. Beliau sangat menentang menyembah berhala karena berhala tidak akan mengerti apa yang dirasakan oleh manusia. Berhala hanyalah benda mati, yang tidak dapat mendatangkan manfaat bagi kita. Makanya, berhala baru yang sering dimodifikasikan dengan idola.Mungkin kita agak tercengang melihat anak muda dan remaja begitu histeris melihat konser yang bertajuk “ American Idol” dan “Indonesian Idol”. Perasaan kita sering diaduk-aduk bahkan gemas ingin bertemu dengan sang idola. Apabila kita mendengar kata idol, tetapi tidak pernah mengali lebih dalam makna yang sesungguhnya.</p>
<p>Dalam konsep pemaknaan, idola dalam bahasa Melayu lantaran bunyinya hampir sama. Sedangkan menurut takrifan kamus Oxford (edisi ketiga), idol dalam bahasa Inggris diidentikkan dengan patung, pujaan, orang atau benda yang terlalu disanjung-sanjung yang cendrung menjurus dengan pemujaan berhala. Dilihat jelas dalam terbitan kamus Oxford, berikut idolatry berarti penyembahan berhala, idolater penyembah berhala, musyrikin, idolatruos artinya (bersifat) menyembah atau memuja, idolize (terlampau) menyanjung, idolazion artinya penyembahan, pemujaan.</p>
<p>Pemaknaan kata idola pada masa sekarang ini hanya digambarkan berdasarkan sifat yang terlalu tasub, menyembah, memuja, dan terlalu menyanjung sesuatu yang bersifat hidup atau dalam makna lain menyembah berhala atau patung. Acara yang dikemas lewat American Idol, kemudian ditiru oleh Indonesia dalam kemasan Indonesian Idol adalah bentuk penjajahan baru. Yang konon dalam acara tersebut para pencari bakat mencari potensi-potensi remaja Indonesia, acara tersebut sontak menarik ribuan belia.Idol kabarnya dijadikan sebagai reality show di 20 negara, dimana dalam acara tersebut seseorang akan dipoles menjadi bintang (from zero to zero) akhirnya dapat membuat album sendiri dan disponsori oleh label ternama seperti Sony Music Indonesia, IMI, dan sebagainya.</p>
<p>Indonesian Idol tak ubahnya sebagai bentuk fenomena model baru. Acara yang di trademark 19 Television Limited dan Fremantle   Media Operation BV serta diproduseri oleh Simon Fuller ini mampu menghipnotis remaja Indonesia. Tak dinyana malahan para ABG rela berantrian dan berdesak-desakan diantara teriknya mentari dan derasnya hujan. Mereka sering dijebak dengan angan-angan kehidupan glamour dan popularitas dengan instan. Sehingga, para ABG ingin sekalidi puja-puja dan bahkan di dewakan oleh fansnya.Kalau dilihat fenomena masyarakat sekarang, polah tingkah para idola yang sering dipuja-puja dan disanjung-sanjung. Konon, para idola tersebut telah dikemas. Quraisy modern yang dikemas dengan begitu rapi, malahan dipuji-puji . Parahnya lagi tingah laku idola lansung ditiru (imitated habit).</p>
<p>Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, memandang bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan agama.Padahal kalau dikaji lebih dalam lagi, jelas pemujaan dan penyanjungan terhadap manusia dapat di katakan musyrik. Hal tersebut tercantum dalam surat An Nisa ayat 65, dan surat Al Ahzab ayat 21.Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Indonesian Idol adalah jiplakan dari American Idol, dalam berpakaian pun para kontestan dipermak dengan American style dan American dream yang selanjutnya akan dilanjutkan dalam kontes World Idol. Padahal kita mengetahui bahwa Indonesian Idol sama dengan penyembahan berhala atau jahil.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa masyarakat kita bangga diperbodohkan dengan acara-acara bertajuk idola?. Amat mengherankan jika kita menyaksikan para kontestan yang menangis dan sedih setelah dinyatakan gagal atau berhasil ke Jakarta. Kadang kita tercengang dengan prilaku mereka yang kecewa bahkan mencaci maki para juri ( tidak ada rasa menghormati dan menghargai).Acara-acara ini menghasilkan generasi muda ( degradasi moral) bahkan tidak menghargai dan menghargai kegagalan. Sebagaimana kata orang bijak “ jadikan kegagalan sebagai awal keberhasilan, dan belajarlah engkau dari kesalahan maka akan kau dapatkan kebenaran).Elsya Crownia, Mahasiswi Sastra Inggris, tergabung dalam FLI dan LPK, Fakultas Sastra, Universitas Andalas <img WIDTH="673" HEIGHT="1" SRC="///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" /></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hijaumuda.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hijaumuda.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hijaumuda.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hijaumuda.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hijaumuda.wordpress.com&amp;blog=2502767&amp;post=15&amp;subd=hijaumuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hijaumuda.wordpress.com/2008/02/03/15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6556e2a307d54109e7cac3ed97e1c1c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">hijaumuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
